AI Bantu Israel Targetkan Serangan dalam Perang dengan Iran

Teknologi AI Maven membantu Israel menentukan 1.000 target serangan prioritas dalam 24 jam pertama Operasi Epic Fury.

Peran Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki minggu keempat, namun belum ada kejelasan mengenai kapan konflik ini akan berakhir. Israel membanggakan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam operasi militer mereka.

The Jerusalem Post melaporkan pada Rabu (25/3/2026) bahwa AI membantu Israel memenangkan peperangan dan opini di media sosial. Teknologi AI Maven mampu mengidentifikasi 1.000 target prioritas serangan dalam 24 jam pertama Operasi Epic Fury, yang oleh Israel disebut sebagai Roaring Lion.

Cameron Stanley, Kepala Digital dan AI Pentagon, menyatakan dalam Konferensi AIPCon 9 pada 12 Maret 2026 bahwa "Maven Smart System, platform target dengan AI dari Palantir, mengkonsolidasikan 8-9 sistem terpisah menjadi satu visualisasi antarmuka."

Chad Wahlquist, seorang arsitek Palantir, menambahkan bahwa dalam Perang Iran, jumlah personel intelijen yang dibutuhkan berkurang dari 2.000 menjadi hanya 20 operator. Inti dari operasi ini adalah Claude, model AI yang dikembangkan oleh Anthropic.

Ironisnya, Claude adalah program yang sebelumnya dicekal oleh pemerintah AS karena Anthropic menolak penggunaannya untuk keperluan perang. Namun, Amerika kemudian menggunakannya untuk menyerang Iran dalam operasi militer terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak tahun 2003.

Rantai serangan modern melibatkan proses menemukan, memastikan, melacak, menargetkan, menyerang, dan mengevaluasi. AI mempercepat proses ini. Pekerjaan yang sebelumnya memakan waktu berminggu-minggu dapat diselesaikan oleh Maven dalam hitungan jam.

Namun, ada kekhawatiran terkait kecepatan tanpa pengawasan yang dapat menyebabkan kurangnya presisi dan meningkatkan risiko kecerobohan. Dalam pengujian militer AS hingga tahun 2024, akurasi pengenalan objek Maven mencapai sekitar 60%, dibandingkan dengan 84% untuk analis manusia, menurut laporan Bloomberg dan Tech Brew. Data terbaru belum dipublikasikan secara resmi.

Dengan 1.000 target per hari, ada potensi ratusan kesalahan identifikasi. Tim pengawas yang terdiri dari 20 orang menjadi faktor manusia penting dalam mengendalikan AI dalam peperangan.

CEO Palantir, Alex Karp, menyatakan bahwa Palantir sebenarnya menjual lapisan orkestrasi perang, bukan hanya AI. Model bahasa untuk Maven, baik Anthropic maupun OpenAI, adalah komponen yang dapat diganti. Alur kerja Palantir yang dirancang untuk perang adalah kunci utamanya.

Pentagon memiliki waktu 6 bulan untuk mengganti Claude, yang akan menjadi tantangan di tengah berlangsungnya Perang Iran. Jika pergantiannya mudah, itu akan membuktikan bahwa model bahasa AI hanyalah komoditas. Namun, jika pergantiannya sulit, pendiri Anthropic, Dario Amodei, membuktikan bahwa produknya memiliki nilai signifikan.

Recommended