Guru Besar Ilmu Konsumen IPB University, Ujang Sumarwan, memberikan analisis mendalam terkait fenomena warteg fancy yang marak bermunculan di berbagai kota besar pada Jumat, 24 April 2026. Inovasi ini dinilai sebagai respons kreatif pelaku usaha terhadap pergeseran selera pasar.
Sebagaimana dilansir dari Medcom, tren ini dipicu oleh gabungan berbagai aspek, mulai dari pemenuhan kebutuhan fungsional hingga keinginan konsumen terhadap citra sosial yang lebih tinggi. Kehadiran desain tempat yang estetis dan peningkatan layanan menjadi pembeda utama dengan warteg konvensional.
Ujang menjelaskan bahwa konsumen saat ini, terutama dari kalangan Generasi Z, cenderung membandingkan kenyamanan tempat selain sekadar rasa makanan. Pengalaman makan yang ditawarkan menjadi faktor penentu bagi pelanggan dalam memilih lokasi kuliner.
"Konsumen akan membandingkan berbagai pilihan tempat makan. Mereka mencari sesuatu yang baru, nyaman, dan tetap terjangkau. Di sinilah terjadi pertemuan antara kebutuhan konsumen dan strategi pelaku usaha," ujar Ujang Sumarwan, Guru Besar Ilmu Konsumen IPB University.
Terkait perbedaan harga yang lebih mahal dibandingkan warteg biasa, Ujang menganggap hal tersebut sebagai kewajaran dalam perspektif bisnis. Ia menyebutkan bahwa dalam persepsi pelanggan, harga yang lebih tinggi sering kali diasosiasikan dengan kualitas produk dan layanan yang lebih baik.
Inovasi fisik pada desain interior dan inovasi nonfisik pada keramahan pelayanan menjadi kunci penarik minat pelanggan. Namun, keberlanjutan konsep ini sepenuhnya bergantung pada konsistensi pelaku usaha dalam mempertahankan respons positif dari pasar.
Ujang menegaskan bahwa enam bulan pertama merupakan periode krusial untuk menentukan apakah sebuah unit bisnis mampu bertahan atau hanya menjadi tren sesaat. Pelaku usaha dituntut terus beradaptasi karena siklus hidup tren dalam industri makanan dan minuman berlangsung sangat cepat.