Inggris Ingatkan Ancaman Spionase China Lewat Perangkat WiFi dan IoT

Pemerintah Inggris dan sembilan negara lain mengeluarkan peringatan terkait penggunaan router dan perangkat IoT untuk aktivitas spionase siber China.

Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) bersama sembilan badan intelijen internasional mengeluarkan peringatan keras pada Kamis (23/4/2026) mengenai taktik peretasan kelompok terafiliasi China yang memanfaatkan perangkat elektronik sehari-hari untuk spionase.

Himbauan tersebut diterbitkan setelah terdeteksinya upaya berkelanjutan dari kelompok yang disokong Beijing untuk membajak peralatan seperti router WiFi, printer, hingga kamera web guna melancarkan serangan siber terorganisir.

Dilansir dari Detik iNET melalui The Guardian pada Jumat (24/4/2026), kelompok peretas ini membentuk jaringan rahasia atau botnet dengan mengincar perangkat yang sudah usang atau belum mendapatkan pembaruan perangkat lunak.

Kepala Eksekutif NCSC, Richard Horne, mengungkapkan bahwa agen intelijen dan militer China saat ini memiliki tingkat kecanggihan yang sangat tinggi dalam menjalankan operasi siber berskala global.

"Kita tidak lagi sekadar menghadapi ancaman siber yang mumpuni, tetapi sesama pesaing sejajar di dunia maya," ujar Horne dalam konferensi tahunan NCSC di Glasgow.

Pakar keamanan menjelaskan bahwa perangkat Internet of Things (IoT) yang terhubung ke internet kini digunakan untuk menyamarkan asal-usul serangan agar sulit dilacak oleh otoritas keamanan negara sasaran.

Router yang telah dibajak berfungsi layaknya Virtual Private Network (VPN) yang memungkinkan peretas menyembunyikan lokasi asli mereka saat menyerang infrastruktur perusahaan besar atau institusi pemerintah.

Otoritas siber Inggris mendesak organisasi untuk memetakan seluruh sistem TI dan menerapkan autentikasi multifaktor (MFA) bagi staf guna mencegah akses jarak jauh ilegal dari jaringan luar.

NCSC mengidentifikasi bahwa jaringan rahasia ini mayoritas terdiri dari router kantor kecil (SOHO) yang terus diperbarui dan dikelola oleh perusahaan swasta di China untuk kepentingan aktor kejahatan.

Sebelumnya, kelompok peretas Volt Typhoon asal China dilaporkan telah menyusup ke infrastruktur penting Amerika Serikat, termasuk sistem transportasi udara, kereta api, hingga pengelolaan air bersih.

Pada awal tahun ini, Google juga melaporkan keberhasilan mereka dalam mengganggu jaringan proxy perumahan yang menyalahgunakan perangkat rumah tangga untuk kepentingan serangan siber negara tertentu.

Recommended