Klub-klub sepak bola Jawa Timur gagal mendominasi BRI Super League musim ini, meskipun menjadi provinsi dengan jumlah klub terbanyak di kasta teratas. Persebaya Surabaya, Arema FC, Persik Kediri, dan Madura United mengalami masa sulit.
Keempat klub Jawa Timur tersebut justru berperan sebagai figuran, bukan lagi menjadi karakter utama dalam kompetisi Super League 2025/2026.
Persebaya Surabaya, yang dikenal sebagai klub yang berkelanjutan setiap musimnya dan selalu bersaing di papan atas, kini berada di papan tengah. Arema FC dan Persik Kediri, mantan juara Liga Indonesia, terlihat inkonsisten dan berjuang menghindari zona degradasi. Madura United bahkan terancam turun kasta musim depan jika tidak segera berbenah.
Sebagai barometer sepak bola nasional, performa keempat klub ini jauh dari harapan. Apa yang menyebabkan mereka gagal bersaing musim ini?
Persebaya memulai musim dengan semangat tinggi dan target besar. Namun, target tersebut tidak sejalan dengan perekrutan pemain yang mumpuni. Mereka juga kesulitan menemukan pemain bintang seperti Rizky Ridho dan Marselino Ferdinan.
Kedalaman skuad Persebaya dinilai kurang memadai. Mereka perlu melakukan perubahan signifikan untuk bisa bersaing di musim depan.
Transformasi Arema FC yang Tidak Sempurna
Arema FC sempat menunjukkan tren positif di awal tahun 2026 dengan kehadiran pemain baru. Gabriel Silva, Gustavo Franca, Hansamu Yama, dan Joel Vinicius langsung menjadi pilar tim, memaksa pemain lama seperti Dendi Santoso dan Johan Alfarizi untuk menepi.
Namun, transformasi Arema FC tidak berjalan mulus. Lini depan mereka cukup baik, tetapi pertahanan mereka tampak rapuh. Arema merindukan sosok Luis Gustavo yang cedera.
Mentalitas Persik Kediri yang Kurang Baik
Persik Kediri menjadi korban dari infrastruktur yang kurang memadai. Stadion Brawijaya dianggap tidak layak untuk menggelar pertandingan, memaksa mereka untuk bermain di Stadion Gelora Joko Samduro di Gresik.
Meskipun ada peningkatan teknis di bawah pelatih Marcos Reina, mentalitas tim di luar kandang dinilai rendah. Mereka sering gagal meraih poin penuh. Tiga laga kandang yang terasa seperti tandang juga menjadi faktor yang memengaruhi performa mereka.
Runtuhnya Kejayaan Madura United
Kondisi paling memprihatinkan dialami oleh Madura United. Setelah menjadi tim yang disegani, kini mereka menjadi kandidat kuat untuk terdegradasi. Pemecatan Alfredo Vera menjadi awal masalah, dan penunjukan Carlos Parreira sebagai pengganti dianggap sebagai perjudian.
Masalah terbesar Madura United adalah kegagalan merekrut striker asing yang berkualitas, padahal mereka selalu memiliki striker berbahaya di setiap musim. Bursa transfer paruh musim juga tidak dimanfaatkan dengan baik. Degradasi sepertinya sulit dihindari bagi klub yang baru berusia satu dekade ini.