Tahun 2026 menjadi penanda usia emas bagi raksasa teknologi Apple yang genap 50 tahun. Bagi sebagian kalangan, angka ini mungkin hanya sebatas hitungan, namun tidak demikian halnya dengan Bagus Hernawan. Sebagai seorang penggemar Apple yang telah memantau evolusi merek asal Cupertino ini selama hampir dua dekade, momen ini memiliki makna yang sangat personal, dikutip dari Detik iNET.
Perayaan ini tidak sekadar memperingati usia, melainkan juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan transformasi Apple dan menelusuri proyeksi arah masa depannya. Pemahaman mengenai Apple bagi Bagus tidak diawali dari produk, melainkan dari filosofi yang melekat pada merek tersebut.
Kampanye "Think Different" yang diluncurkan pada tahun 1997 menjadi tonggak penting. Lebih dari sekadar iklan, kampanye ini merupakan deklarasi identitas bagi sebuah perusahaan yang kala itu berada di ambang kehancuran. Menurut Bagus, filosofi inilah yang membedakan Apple.
“Filosofi itu yang bikin Apple berbeda. Mereka tidak hanya menjual hardware, tapi cara berpikir dan kreativitas,” ujar Bagus, seperti dilansir dari Detik iNET. Benang merah filosofi ini, menurutnya, terus menghubungkan setiap era Apple, mulai dari Mac, iPod, iPhone, hingga perangkat teranyar.
Era Steve Jobs Menuju Tim Cook
Bagus mengidentifikasi era kepemimpinan Steve Jobs sebagai fase yang sangat distingtif. Produk Apple pada masa itu dikenal dengan harga premium, eksklusivitas, dan pasar yang relatif terbatas, terutama di kawasan Asia. Namun, di era inilah Apple berhasil menciptakan lompatan-lompatan inovatif yang signifikan.
iMac hadir dengan desain warna-warni yang berani mendobrak standar industri. iPod memperkenalkan desain minimalis berwarna putih yang ikonik. Kemudian, MacBook Air membuktikan bahwa laptop dapat dirancang setipis amplop. “Apple waktu itu bikin teknologi jadi sesuatu yang menarik, bukan membosankan,” kata Bagus.
Perubahan arah mulai terlihat memasuki era Tim Cook. Perusahaan menjadi lebih inklusif, memperluas jangkauan pasar, dan menawarkan variasi produk yang lebih beragam. Penawaran produk tidak lagi hanya menyasar segmen premium, tetapi juga mulai menjangkau pengguna baru.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian Bagus adalah kehadiran MacBook Neo, yang dirancang khusus untuk pengguna awal, termasuk para pelajar dan mahasiswa. Ia menilai bahwa “Ini perubahan besar. Apple sekarang aktif menjemput pengguna baru.” Bahkan, iPhone pun kini hadir dalam berbagai varian dengan opsi harga dan fitur yang lebih fleksibel dibanding era sebelumnya.
Pendekatan Apple Terhadap AI dan Privasi
Di tengah maraknya tren kecerdasan buatan (AI), Apple memilih pendekatan yang berbeda. Mereka tidak sepenuhnya bergantung pada komputasi awan, melainkan mengedepankan strategi on-device AI yang menitikberatkan pada privasi pengguna. “Apple punya keunggulan di sini. Data pengguna dijaga, AI berjalan di perangkat,” jelas Bagus.
Pendekatan ini dinilai semakin relevan mengingat isu kebocoran data yang menjadi perhatian global. Beberapa produk yang dianggap Bagus paling revolusioner antara lain iBook G3 (1999) sebagai laptop pertama dengan Wi-Fi, iPod yang mengubah cara menikmati musik, iPhone generasi pertama yang mengakhiri era keypad fisik, dan AirPods yang mendefinisikan ulang earphone nirkabel. Inovasi lainnya termasuk Apple M series yang merupakan lompatan performa besar, Apple Watch dengan dampak kesehatan nyata, serta Apple Vision Pro yang membuka babak baru dalam teknologi VR/AR.
Pertanyaan untuk Steve Jobs dan Harapan Apple Store di Indonesia
Dalam refleksi 50 tahun perjalanan Apple, Bagus masih menyimpan satu pertanyaan besar untuk Steve Jobs, seandainya ia memiliki kesempatan bertemu. Ia penasaran, “Apakah Steve Jobs akan menyukai penggunaan AI di produk Apple?” Pertanyaan ini menarik karena Jobs dikenal sangat selektif terhadap teknologi, selalu menekankan kesederhanaan, pengalaman pengguna, dan kontrol penuh terhadap produk.
Selain itu, Bagus juga ingin menanyakan tentang produk-produk Apple yang tidak pernah dirilis ke publik, atau hanya sebatas rumor. “Seperti Apple Car, AirPower, dan produk lain yang sempat ramai tapi tidak jadi dirilis,” tambahnya. Baginya, kisah di balik produk-produk yang tidak jadi lahir tersebut justru menyimpan filosofi penting mengenai bagaimana Apple memilih dan menolak sebuah inovasi.
Dari MacBook putih pertamanya hingga era AI saat ini, Bagus melihat satu hal yang konsisten: Apple selalu berhasil membangkitkan rasa penasaran. Di usia ke-50, ia berharap Apple akan terus menjadi perusahaan yang berani mengambil lompatan besar. Harapan lain yang sangat dinantikan Bagus adalah kehadiran Apple Store resmi di Indonesia. Menurutnya, keberadaan toko fisik resmi akan membawa dampak signifikan, baik dari segi waktu rilis produk maupun pengalaman layanan purna jual. Namun, ia juga berpendapat bahwa saat ini “belum saatnya Apple buka Apple Store di Indonesia. Banyak layanan pendukung yang belum siap.”