Permintaan global terhadap mobile DRAM, komponen vital untuk ponsel, mencapai puncaknya. Di tengah tekanan rantai pasok yang terjadi, Apple dikabarkan memanfaatkan kekuatan finansialnya untuk mengamankan sebagian besar stok memori yang tersedia di pasaran. Strategi agresif ini berpotensi mengubah lanskap persaingan dalam industri perangkat seluler.
Skenario ini sebelumnya telah diprediksi oleh analis TF Securities, Ming-Chi Kuo. Menurut Kuo, Apple berpotensi memperlebar dominasinya di tengah krisis pasokan memori dengan menanggung kenaikan harga komponen. Perusahaan memilih untuk menyerap biaya tambahan ini, alih-alih membebankannya kepada konsumen, guna memperkuat posisi pasar mereka.
Implementasi strategi ini mulai terlihat di lapangan. Laporan dari sumber di Korea Selatan, seperti dikutip detikINET dari Techspot, Sabtu (4/4/2026), menunjukkan bahwa Apple tengah membeli hampir seluruh mobile DRAM yang tersedia dengan harga yang sangat tinggi. Perusahaan bahkan rela mengorbankan sebagian margin keuntungan operasional demi membatasi ketersediaan pasokan memori bagi para pesaing.
Manuver ini segera berdampak pada beberapa perusahaan semikonduktor. MediaTek dan Qualcomm dilaporkan harus memangkas pengiriman chip 4nm mereka sebanyak 15 hingga 20 juta unit. Jumlah tersebut setara dengan 20 ribu hingga 30 ribu keping wafer.
Penurunan produksi ini sangat memukul produsen ponsel yang bergantung pada chip tersebut, terutama untuk segmen perangkat kelas menengah dan bawah. Di segmen ini, tekanan biaya produksi akibat tingginya harga memori menjadi beban yang signifikan bagi vendor.
Di sisi lain, Samsung sebagai pesaing terdekat telah menaikkan harga untuk beberapa produk dengan kapasitas memori tinggi. Perangkat terbaru seperti Galaxy S25 Edge, Galaxy Z Fold 7, dan Galaxy Flip 7 kini dijual dengan harga lebih mahal.
Meskipun Samsung tidak secara spesifik menyebut masalah pasokan memori sebagai alasan kenaikan harga, langkah ini konsisten dengan tren pengetatan pasokan komponen yang semakin terasa sejak awal tahun ini. Kondisi tersebut seolah mengonfirmasi adanya kelangkaan di pasar komponen.
CEO Apple, Tim Cook, dalam laporan keuangan terbarunya memang sempat menyoroti biaya memori dan terbatasnya kapasitas produksi chip 3nm di TSMC sebagai tantangan utama. Namun, melihat perkembangan saat ini, Apple tampaknya memanfaatkan cadangan uang tunai mereka secara maksimal. Dana tersebut tidak hanya digunakan untuk mengamankan komponen bagi produksi lini iPhone, tetapi juga untuk membatasi ruang gerak para pesaing. Hal ini menunjukkan bagaimana perusahaan dengan sumber daya finansial besar dapat mengendalikan pasar komponen global demi keuntungan strategis mereka.