Keempat astronaut yang melakukan perjalanan mengelilingi Bulan dalam misi Artemis II NASA bersiap untuk kembali ke Bumi. Namun, salah satu fase paling berbahaya dan penuh ketegangan dari misi ini masih menanti mereka.
Fase masuk kembali ke atmosfer selalu menjadi segmen berisiko tinggi karena wahana antariksa dapat terpapar suhu ekstrem, mencapai sekitar 2.760 derajat Celcius. Kapsul kru Orion, yang membawa manusia untuk pertama kalinya, diketahui memiliki kelemahan desain pada perisai panasnya, sebuah lapisan perlindungan termal vital di bagian bawah.
Ketika kapsul kru Orion menghantam lapisan atmosfer pada ketinggian sekitar 120 kilometer di atas Samudra Pasifik, kecepatannya akan mencapai 38.624 km per jam. Hal ini dijadwalkan terjadi pada hari Jumat.
Hanya dalam hitungan detik, suhu di seluruh perisai panas selebar 5 meter tersebut akan melonjak hingga sekitar 2.760 derajat Celcius. Panas ini setara dengan setengah suhu permukaan Matahari, seiring dengan perlambatan drastis kapal dalam bola api bermuatan listrik akibat gesekan atmosfer.
Para astronaut, yaitu komandan Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan astronaut Kanada Jeremy Hansen, sangat mengandalkan perisai panas ini untuk keselamatan mereka hingga pendaratan di air dengan bantuan parasut, di lepas pantai California.
Meskipun ada masalah signifikan pada perisai panas yang digunakan selama penerbangan uji coba tanpa awak Artemis I pada tahun 2022, manajer misi dan para kru tetap yakin. Kala itu, material Avcoat yang membentuk perisai tersebut mengalami keretakan di bawah permukaan.
Amit Kshatriya, administrator asosiasi NASA, menyatakan keyakinannya pada sistem tersebut. "Kami memiliki keyakinan tinggi pada sistem ini, pada perisai panas, parasut, dan sistem pemulihan yang kami rakit," ujarnya, seperti dikutip dari Detik iNET.
"Rekayasa teknisnya mendukung, data penerbangan Artemis I mendukungnya. Semua pengujian darat kami mendukung, analisis kami mendukungnya dan besok para kru akan mempertaruhkan nyawa mereka di balik keyakinan tersebut," tambah Kshatriya.
NASA memutuskan untuk memesan desain perisai panas yang berbeda untuk misi-misi Artemis selanjutnya. Namun, perisai panas pada Artemis II, yang identik dengan yang digunakan pada Artemis I, sudah terpasang. Penggantiannya akan menunda misi selama 18 bulan atau lebih.
Berdasarkan data pengujian dan analisis mendalam, manajer NASA memilih untuk tetap meluncurkan Artemis II. Analisis tersebut mengindikasikan bahwa perisai akan berfungsi optimal jika lintasan masuk kembali dimodifikasi. Modifikasi ini bertujuan untuk menghilangkan fluktuasi suhu dan tekanan yang menjadi penyebab kerusakan pada penerbangan Artemis I.
"Mereka melakukan penelitian luar biasa banyak, banyak penelitian terobosan di beberapa fasilitas yang belum pernah kami gunakan sebelumnya dan mereka menemukan akar masalahnya," kata Wiseman.
Wiseman menambahkan, "Menurut saya semua itu mengarah pada hal yang baik. Dan saya rasa jika Anda, sebagai manusia yang akan menaiki roket ini, telah duduk dalam rapat-rapat yang kami ikuti, mendengarkan para pakar, dan memeriksa data bersama mereka, Anda akan merasakan ketenangan yang sama."