AS Gunakan AI dalam Serangan Skala Besar ke Iran Tahun 2026

Dalam Operation Epic Fury, AS menyerang 1.000 target di Iran dengan bantuan AI, menandai babak baru dalam perang modern.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase baru dengan pemanfaatan teknologi canggih. Dalam operasi militer besar bernama Operation Epic Fury, militer AS dilaporkan menyerang sekitar 1.000 target di Iran hanya dalam 24 jam. Penggunaan kecerdasan buatan (AI) menjadi andalan utama dalam operasi ini.

Operasi yang dimulai pada 28 Februari 2026 ini merupakan serangan gabungan AS dan Israel terhadap berbagai fasilitas strategis Iran. Instalasi militer, jaringan rudal balistik, serta fasilitas yang diduga terkait program nuklir Iran menjadi sasaran utama.

Komandan US Central Command (CENTCOM), Admiral Brad Cooper, menyatakan bahwa operasi ini adalah langkah signifikan untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran.

"Operasi ini bertujuan menghancurkan kemampuan nuklir Iran, sistem rudal balistiknya, serta jaringan proxy yang selama ini menjadi bagian dari strategi militernya," ujar Cooper dikutip dari Washington Post.

Serangan berskala besar dalam waktu singkat ini menggambarkan bagaimana AI kian berperan sentral dalam strategi perang modern.

Militer AS mengandalkan sistem Maven Smart System (MSS) dari Palantir dalam operasi ini. Sistem tersebut mampu mengolah data intelijen dari berbagai sumber, seperti satelit, drone, sensor pengintaian, hingga komunikasi yang disadap.

Teknologi ini juga memanfaatkan model AI besar bernama Claude, yang dikembangkan oleh Anthropic. Model ini membantu menyaring data intelijen dan mempercepat identifikasi target prioritas bagi analis militer.

Dengan bantuan AI, perencanaan serangan yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu dapat dipangkas menjadi hitungan jam, bahkan menit.

Meski demikian, militer AS menegaskan bahwa AI berperan sebagai alat bantu analisis bagi manusia, bukan pengambil keputusan akhir.

Juru bicara CENTCOM, Kapten Timothy Hawkins, menjelaskan bahwa teknologi AI tidak membuat keputusan penargetan secara mandiri dan tidak menggantikan peran manusia. "AI membantu membuat keputusan yang lebih pintar dan lebih cepat," kata Hawkins.

Hawkins menambahkan bahwa setiap keputusan serangan tetap dievaluasi oleh analis dan komandan militer sebelum disetujui.

Dari Satelit hingga Drone

AI dalam sistem ini bekerja dengan menggabungkan berbagai sumber data. Citra satelit, rekaman drone, radar, hingga laporan intelijen manusia di lapangan dianalisis secara komprehensif.

Program AI militer seperti Project Maven dirancang untuk memproses data dalam jumlah besar dan mengidentifikasi objek militer secara otomatis, seperti kendaraan tempur, instalasi militer, atau aktivitas mencurigakan.

Hasil analisis tersebut ditampilkan dalam sistem komando militer agar analis manusia dapat menentukan langkah berikutnya. Dengan demikian, AI mempercepat proses pengambilan keputusan di medan perang.

Senjata Modern Ikut Dikerahkan

Operasi ini juga melibatkan berbagai sistem persenjataan canggih militer AS, seperti pesawat tempur siluman, drone serang, dan rudal jelajah presisi tinggi.

Strategi ini memungkinkan militer AS melakukan serangan presisi dalam skala besar sekaligus menekan kemampuan respons Iran.

Penggunaan drone murah dalam jumlah besar juga menjadi bagian dari strategi militer baru yang semakin mengandalkan kombinasi teknologi digital, AI, dan sistem persenjataan modern.

Awal Era Baru Perang Berbasis AI

Laporan Bloomberg menyoroti bahwa penggunaan AI secara masif dalam konflik Iran menandai perubahan besar dalam peperangan modern.

Kemampuan AI untuk menganalisis data dalam skala besar memungkinkan militer memproses informasi intelijen jauh lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

Namun, perkembangan ini juga memunculkan perdebatan etika tentang batasan penggunaan AI dalam konflik bersenjata.

Konflik Iran menjadi laboratorium nyata pertama bagi perang berbantuan AI dalam skala besar, yang berpotensi memengaruhi strategi militer global di masa depan.

Recommended