AS Kerahkan Sistem Rudal THAAD ke Timur Tengah

Amerika Serikat memindahkan sebagian sistem pertahanan rudal THAAD dari Korea Selatan ke Timur Tengah untuk menghadapi ancaman Iran.

Amerika Serikat dilaporkan mengerahkan sistem pertahanan rudal canggih Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) ke wilayah Teluk, menyusul serangan rudal dan drone yang dilancarkan Iran. Sistem THAAD ini sebelumnya ditempatkan di Korea Selatan.

Washington Post melaporkan bahwa Pentagon sedang memindahkan sebagian sistem THAAD dari Korsel ke Timur Tengah. Langkah ini juga diikuti dengan pemanfaatan pasokan rudal pencegat Patriot yang ada di kawasan Indo-Pasifik dan wilayah lain.

Menurut sumber militer, enam kendaraan peluncur THAAD telah dipindahkan dari pangkalan di Seongju ke Pangkalan Udara Osan. Proses pemindahan ini melibatkan penurunan rudal-rudal pencegat, yang kemudian diangkut ke Timur Tengah menggunakan pesawat kargo militer AS jenis C-5 atau C-17.

Setiap peluncur THAAD mampu membawa hingga delapan rudal pencegat. Dengan demikian, diperkirakan sebanyak 48 pencegat telah dipindahkan ke Osan jika keenam kendaraan tersebut terisi penuh.

Pemindahan aset pertahanan udara ini menimbulkan kekhawatiran di Korea Selatan. Muncul pertanyaan apakah langkah ini akan melemahkan perlindungan terhadap Korea Utara, yang terus mengembangkan persenjataan rudal balistiknya.

Kim Yeoul-soo, direktur Korea Research Institute for Military Affairs, berpendapat bahwa dampak dari pemindahan ini kemungkinan terbatas. "THAAD dirancang mencegat rudal pada ketinggian yang sangat tinggi, jadi ketidakhadirannya bisa berdampak, tapi tidak akan terlalu menentukan," sebutnya.

Kim menambahkan, Korea Selatan juga mengoperasikan sistem Patriot dan pencegat Cheongung II. Dengan demikian, negara ini masih memiliki sistem pertahanan rudal berlapis. Sistem pertahanan rudal dirancang untuk beroperasi secara berlapis dengan pencegat yang mencakup ketinggian berbeda. Karenanya, kecil kemungkinan pergerakan satu aset akan signifikan melemahkan perlindungan secara keseluruhan.

THAAD mencegat rudal balistik pada ketinggian 40 hingga 150 kilometer, jauh lebih tinggi dari sistem Patriot. Sistem ini menjadi elemen penting dari arsitektur pertahanan rudal gabungan AS dan Korea Selatan sejak 2017, ketika ditempatkan di Seongju.

Presiden Lee Jae Myung mengakui adanya pemindahan tersebut saat rapat Kabinet. Seoul juga telah menyampaikan kekhawatirannya kepada Washington. "Kami telah menyatakan penolakan terhadap penarikan aset pertahanan udara tertentu, namun ini juga sebuah kenyataan bahwa posisi kita tak bisa selalu diakomodasi sepenuhnya di tiap situasi," katanya.

Meskipun demikian, Lee menambahkan bahwa pergeseran tersebut tidak akan secara signifikan melemahkan daya tangkal terhadap Korea Utara. "Jika Anda bertanya apakah strategi daya tangkal kita terhadap Korea Utara akan sangat terpengaruh, saya bisa pastikan bahwa itu tidak akan terjadi," ujar Lee.

Beberapa analis menyampaikan bahwa perkembangan ini dapat memiliki implikasi jangka panjang. Terutama jika konflik berkepanjangan di Timur Tengah menguras stok pencegat AS. Lee Byong-chul, profesor di Institute for Far Eastern Studies di Universitas Kyungnam, memperingatkan bahwa penipisan inventaris AS dapat mempersulit kemampuan Washington untuk memperkuat Korsel jika terjadi krisis.

"Jika inventaris THAAD AS terkuras signifikan di Timur Tengah, akan jadi lebih sulit bagi Washington untuk dengan cepat mengisinya kembali di Semenanjung Korea dalam keadaan darurat," kata Lee Byong-chul.

Situasi ini menyoroti perlunya Korea Selatan memperkuat sistem pertahanan rudalnya sendiri sambil mempertahankan koordinasi erat dengan Washington, seperti dikutip detikINET dari Korea Times.

Recommended