Regulator komunikasi Amerika Serikat memperluas kebijakan pembatasan perangkat teknologi, kini menyasar router konsumen setelah sebelumnya drone.
Federal Communications Commission (FCC) secara resmi memasukkan router konsumen buatan luar negeri ke dalam daftar pembatasan impor. Implikasinya, perangkat baru tidak akan memperoleh izin radio, yang berarti pelarangan masuknya router baru ke pasar AS.
Kebijakan ini menargetkan hampir semua perangkat router rumah tangga. Sebagian besar router saat ini diproduksi di luar AS, meski merek global, seperti dikutip detikINET dari The Verge, Rabu (25/3/2026).
Langkah ini didasari kekhawatiran keamanan nasional, menurut FCC. Dalam dokumen resminya, regulator menilai dominasi router produksi luar negeri berpotensi menimbulkan risiko ekonomi, keamanan siber, hingga pertahanan.
Keputusan ini juga dikaitkan dengan sejumlah serangan siber besar seperti Volt Typhoon cyberattack, Flax Typhoon cyberattack, dan Salt Typhoon cyberattack yang menargetkan infrastruktur penting di AS, termasuk jaringan komunikasi, energi, dan transportasi.
Namun, aturan ini tidak berlaku surut. Pengguna tetap dapat menggunakan router lama tanpa batasan. Selain itu, produk yang sudah memiliki sertifikasi FCC sebelumnya tetap diizinkan untuk diimpor.
Untuk produk baru, produsen memiliki dua opsi. Pertama, mengajukan izin terbatas dengan komitmen memindahkan produksi ke AS. Kedua, menghentikan penjualan di pasar AS, seperti yang sebelumnya dilakukan DJI di sektor drone.
Kebijakan ini berpotensi mengguncang industri jaringan global. TP-Link, salah satu pemain besar, memperkirakan hampir seluruh industri router akan terdampak. Walaupun berbasis di AS, TP-Link memproduksi perangkatnya di Vietnam.
Efektivitas kebijakan ini masih menjadi pertanyaan. Serangan Volt Typhoon justru menargetkan router dari perusahaan AS seperti Cisco dan Netgear. Kerentanan terjadi karena perangkat tersebut tidak lagi menerima pembaruan keamanan.
Dukungan perangkat lunak dan pembaruan sistem dinilai lebih krusial dalam mencegah eksploitasi daripada lokasi produksi.
Meski demikian, FCC tetap memandang ketergantungan pada produksi luar negeri sebagai risiko strategis. Pasar router di AS diperkirakan akan mengalami perubahan besar, baik dari sisi pasokan maupun harga perangkat.