Pemerintah Amerika Serikat (AS) tengah merancang aturan baru yang dapat melarang penggunaan chip memori, termasuk RAM (DRAM) dan SSD (NAND flash), yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan asal China. Kekhawatiran Washington terkait potensi risiko keamanan nasional menjadi pemicu langkah ini.
Aturan ini akan menargetkan perangkat dan layanan yang dibeli oleh lembaga pemerintah federal. Jika aturan ini disetujui, produk-produk yang menggunakan chip memori dari perusahaan China tidak lagi memenuhi syarat untuk pengadaan teknologi oleh pemerintah AS.
Proposal ini secara khusus menargetkan tiga perusahaan semikonduktor besar China: ChangXin Memory Technologies (CXMT), Yangtze Memory Technologies Corp (YMTC), dan Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), beserta afiliasi mereka. Chip memori dari perusahaan-perusahaan ini berpotensi masuk daftar komponen yang dilarang.
Federal Acquisition Regulatory Council (FAR Council) mengeluarkan rencana aturan ini pada 17 Februari 2026 sebagai kelanjutan dari Section 5949 Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional Tahun Anggaran 2023 (FY23 NDAA).
Definisi "covered semiconductor product or service" dalam proposal ini sangat luas, mencakup tidak hanya chip semikonduktor itu sendiri, tetapi juga seluruh perangkat yang mengandung chip tersebut, termasuk laptop, server, perangkat jaringan, hingga layanan teknologi informasi dan telekomunikasi yang menggunakannya.
Artinya, perangkat pemerintah yang menggunakan RAM atau SSD dari perusahaan yang masuk daftar larangan tidak akan diizinkan dalam pengadaan pemerintah AS.
Aturan ini juga akan berlaku untuk semua jenis pengadaan, termasuk produk komersial bernilai kecil di bawah USD 15.000. Kontraktor juga diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan rantai pasok yang komprehensif untuk memastikan tidak ada komponen dari perusahaan China yang masuk daftar larangan.
Saat ini, proposal tersebut masih dalam tahap konsultasi publik. FAR Council membuka periode komentar hingga 20 April 2026 sebelum keputusan final diambil.
Jika tidak ada perubahan signifikan, aturan tersebut dijadwalkan akan berlaku mulai 23 Desember 2027.
Pemerintah AS juga memberikan klausul grandfathering, yang memungkinkan perangkat atau peralatan yang sudah dibeli atau dipasang sebelum tanggal tersebut untuk tetap digunakan hingga akhir masa pakainya.
Selain itu, FAR Council mengusulkan agar seluruh perangkat elektronik yang saat ini digunakan oleh lembaga pemerintah AS ditinjau ulang untuk memastikan tidak mengandung komponen dari perusahaan yang masuk daftar larangan.
Meskipun aturan ini secara resmi hanya berlaku untuk pengadaan pemerintah AS, analis memperkirakan dampaknya dapat meluas ke pasar komersial. Produsen laptop, server, dan perangkat elektronik cenderung menghindari pembuatan dua versi produk yang berbeda, sehingga banyak vendor kemungkinan akan memilih untuk menghindari komponen dari CXMT atau YMTC demi menyederhanakan rantai pasok mereka.
Jika skenario ini terjadi, langkah AS dapat menghambat ambisi perusahaan memori China untuk memperluas penetrasi pasar global, terutama di Amerika Utara.
Sebaliknya, kebijakan ini diperkirakan akan menguntungkan produsen memori besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron, yang selama ini mendominasi segmen chip memori kelas atas.
Pembatasan ini juga berpotensi membuat harga RAM dan SSD global menjadi lebih fluktuatif, terutama jika pasokan memori tetap ketat akibat lonjakan permintaan dari industri AI dan pusat data.