Aset Bank SMBC Indonesia Tumbuh 2% Jadi Rp245,9 Triliun

Bank SMBC Indonesia mencatat pertumbuhan aset 2% menjadi Rp245,9 triliun per akhir Desember 2025 secara konsolidasi.

PT Bank SMBC Indonesia Tbk (SMBC Indonesia) mencatatkan pertumbuhan aset konsolidasi sebesar 2% secara tahunan (yoy), mencapai Rp245,9 triliun pada akhir Desember 2025.

Direktur Utama SMBC Indonesia, Henoch Munandar, mengungkapkan bahwa kredit konsolidasi tumbuh 3,3% yoy menjadi Rp185,4 triliun pada periode yang sama. Kinerja ini didorong oleh pertumbuhan pada segmen korporasi dan komersial sebesar 6,5% yoy, serta pertumbuhan kredit Jenius di luar Digital Micro sebesar 11,3% yoy.

Penyaluran kredit konsolidasi sepanjang tahun 2025 didukung oleh struktur pendanaan yang semakin efisien. Dana murah (CASA) mengalami peningkatan sebesar 16,7% yoy menjadi Rp53,2 triliun, dengan rasio CASA tumbuh menjadi 40,6%.

Total Dana Pihak Ketiga (DPK) SMBC Indonesia secara konsolidasi meningkat 8% yoy menjadi Rp131 triliun pada akhir tahun lalu. Pertumbuhan DPK ini bertujuan untuk menopang kebutuhan pendanaan sepanjang tahun 2025.

SMBC Indonesia menjaga rasio likuiditas dan pendanaan pada level yang sehat. Liquidity coverage ratio (LCR) tercatat 229,4% dan net stable funding ratio (NSFR) 123,0% per 31 Desember 2025.

Menurut Henoch, kedua rasio tersebut mencerminkan penerapan prinsip kehati-hatian oleh SMBC Indonesia dalam menjaga likuiditas dan permodalan yang kuat. "Kedua rasio tersebut juga merefleksikan upaya SMBC Indonesia dalam menerapkan prinsip kehati-hatian untuk menjaga likuiditas dan permodalan tetap kuat," kata Henoch dalam siaran pers ditulis Rabu (4/3/2026).

Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) konsolidasi tercatat 29,3% pada akhir tahun 2025, berada di atas rata-rata industri yang sebesar 25,9%. Hal ini menunjukkan ruang bagi bank untuk mengembangkan bisnis dan melayani lebih banyak nasabah di berbagai segmen.

Gross non-performing loan ratio secara konsolidasi tercatat 2,6% pada akhir Desember 2025, sedikit membaik dibandingkan 2,8% pada akhir September 2025. Perbaikan ini merupakan hasil dari penerapan manajemen risiko yang sehat.

Pendapatan operasional konsolidasi SMBC Indonesia mencapai Rp18,4 triliun, meningkat 5,8% yoy. Pendapatan bunga bersih tumbuh 4,6% yoy, dengan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) terjaga di level 7,0% di tengah suku bunga kredit yang kompetitif, kenaikan biaya pendanaan, dan volatilitas pasar.

SMBC Indonesia memperkuat pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) secara konsolidasi, terutama di anak perusahaan, yaitu Grup OTO. Pencadangan ini dinilai sebagai respons yang bijaksana terhadap dinamika ekonomi tahun 2025 dan upaya perusahaan induk konglomerasi keuangan (PIKK) dalam menerapkan prinsip kehati-hatian serta menjaga permodalan.

Henoch menjelaskan bahwa kenaikan CKPN merupakan upaya untuk meningkatkan standar tata kelola perusahaan yang baik serta menjaga kualitas aset dan ketahanan bank. "Kenaikan CKPN secara konsolidasi merupakan upaya kita sebagai PIKK untuk senantiasa meningkatkan standar penerapan tata kelola perusahaan yang baik, serta menjaga kualitas aset dan ketahanan bank. Dengan demikian, laba bersih konsolidasi SMBC Indonesia yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang tercatat sebesar Rp506 miliar untuk tahun 2025," jelas Henoch.

Laba bersih setelah pajak SMBC Indonesia sebagai bank saja tercatat sebesar Rp1,5 triliun sepanjang tahun 2025. Anak usaha mereka, BTPN Syariah, mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp1.201 miliar pada tahun yang sama, tumbuh 13,2% yoy, dengan penyaluran pembiayaan mencapai Rp10,3 triliun, tumbuh 2% yoy.

Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang, SMBC Indonesia terus memperkuat agenda environment, social, and governance (ESG) melalui program Daya. Program ini bertujuan memberikan perubahan berarti dalam kehidupan jutaan orang melalui pengembangan kapasitas diri, literasi keuangan, peningkatan kapasitas usaha, dan kehidupan yang berkelanjutan.

Hingga Desember 2025, program Daya telah memberdayakan hampir 37 juta partisipan melalui lebih dari 12 ribu kegiatan yang mencakup aktivitas interaktif, seperti pendampingan, seminar dan pelatihan, edukasi berbasis digital, serta berbagai kegiatan pemberdayaan lainnya.

Recommended