Tim astronom internasional mendeteksi sepasang lubang hitam supermasif yang sedang bergerak menuju tabrakan besar pada pengamatan terbaru yang dirilis Rabu, 22 April 2026. Objek yang berjarak sekitar 500 juta tahun cahaya dari Bumi ini diprediksi akan menyatu dalam waktu kurang dari satu abad ke depan.
Analisis data teleskop radio selama beberapa dekade mengungkap bahwa objek di pusat galaksi Markarian 501 tersebut bukan sekadar blazar biasa. Dilansir dari Detik iNET, para peneliti menemukan adanya pancaran energi ganda yang mengindikasikan keberadaan dua lubang hitam supermasif yang saling mengorbit.
Kedua lubang hitam tersebut diperkirakan memiliki massa yang sangat masif, yakni antara 100 juta hingga satu miliar kali lipat dari massa matahari. Penemuan ini mengubah pandangan sebelumnya yang menganggap objek terang tersebut hanya ditenagai oleh satu inti galaksi aktif.
"Kami memperkirakan satu lubang hitam (hasil penggabungan) akan tersisa," ujar Silke Britzen, astronom di Institut Max-Planck, dalam laporan penelitian yang diterbitkan pada jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society.
Para peneliti mengidentifikasi kejanggalan pada galaksi Markarian 501 karena adanya jet atau pancaran radiasi kedua yang bergerak melingkar berlawanan arah jarum jam. Hal ini berbeda dengan blazar pada umumnya yang hanya memiliki satu sumber pancaran jet utama dari pusatnya.
Tabrakan antara dua raksasa antariksa ini diprediksi akan melepaskan gelombang gravitasi dalam skala yang sangat besar. Kekuatan gelombang tersebut diperkirakan jauh lebih kuat dibandingkan fenomena penggabungan lubang hitam yang pernah dideteksi oleh ilmuwan sebelumnya.
Sinyal dari peristiwa dahsyat ini diharapkan dapat ditangkap oleh detektor gelombang gravitasi di Bumi saat proses penggabungan terjadi. Dampak dari fenomena langka ini menjadi fokus utama penelitian untuk memahami evolusi lubang hitam supermasif di alam semesta.