Badai Saham Teknologi Picu Rebound Harga Emas, Akankah Bertahan di Tengah Tekanan Dolar?

Pasar keuangan global sedang tidak baik-baik saja. Aksi jual masif di sektor saham teknologi memaksa investor memutar otak untuk menyelamatkan aset mereka. Efeknya, aset aman (safe haven) kembali dilirik. Pagi ini, Jumat (6/2/2026), logam mulia menunjukkan taringnya dengan kenaikan tipis, meski secara keseluruhan tren mingguan masih menunjukkan rapor merah yang cukup dalam.

Lonjakan Harga Emas yang terjadi hari ini mencapai 0,75%, membawa logam kuning ini ke level US$ 4.816,45 per ons troi. Namun, jangan terkecoh dengan angka hijau di layar monitor pagi ini. Jika ditarik garis selama sepekan terakhir, nilai emas sebenarnya masih terkoreksi sekitar 1,4%. Artinya, kenaikan saat ini lebih bersifat teknis atau rebound sesaat di tengah volatilitas pasar yang sedang tinggi-tingginya.

Mengapa Harga Emas Sulit Menembus Level Tertinggi Baru?

Dilema yang dihadapi emas saat ini adalah kekuatan Dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Paman Sam terpantau masih betah nongkrong di level tertingginya dalam dua pekan terakhir. Secara teori, ketika Dolar perkasa, emas yang dibanderol dengan mata uang tersebut menjadi terasa lebih mahal bagi pembeli di luar AS. Inilah yang mengganjal laju kenaikan emas lebih jauh.

Selain itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April justru menunjukkan anomali dengan koreksi 1,2% ke level US$ 4.831,84. Hal ini menandakan bahwa pelaku pasar masih sangat berhati-hati dan belum berani bertaruh penuh pada penguatan logam mulia dalam jangka menengah.

Berikut adalah rincian pergerakan harga logam mulia hari ini:

Tabel Pergerakan Harga Logam Mulia (6 Februari 2026)

Komoditas Harga Saat Ini (Spot) Perubahan Harian (%) Kinerja Mingguan
Emas US$ 4.816,45 /oz +0,75% Turun 1,4%
Perak US$ 71,9 /oz +1,21% Turun ~16%
Platinum US$ 1.941,82 /oz -2,48% Melemah
Palladium US$ 1.638,77 /oz -1,09% Melemah

Nasib Perak: Sempat Terjun Bebas Sebelum Akhirnya Bernapas

Jika emas hanya “batuk-batuk” kecil, perak justru sempat mengalami serangan jantung. Harga perak hari ini memang terlihat melesat 1,21% ke posisi US$ 71,9 per ons. Namun, angka ini muncul setelah drama mengerikan pada sesi sebelumnya di mana perak anjlok hingga 19,1%.

Bahkan, pasar sempat dibuat panik ketika perak menembus ke bawah level psikologis US$ 65 per ons, yang merupakan titik terendahnya dalam satu setengah bulan terakhir. Secara mingguan, perak diprediksi bakal menutup pekan dengan kerugian hampir 16%. Ini adalah performa mingguan terburuk sejak tahun 2011.

Ilya Spivak, Kepala Global Macro Tastylive, memberikan analisis menarik mengenai fenomena ini. Menurutnya, ada perbedaan karakter yang sangat kontras antara emas dan perak saat terjadi kekacauan pasar.

“Dalam kondisi risk-off (minat risiko rendah) seperti ini, emas relatif masih bertahan karena statusnya sebagai aset penyimpan nilai. Sementara itu, perak justru tertekan lebih dalam karena sisi komoditas industrinya ikut terimbas sentimen negatif pasar saham dan kripto,” jelas Ilya Spivak.

Analisis JP Morgan: Valuasi Perak Masih Terlalu Mahal?

Raksasa perbankan investasi JP Morgan turut memberikan catatan penting bagi para trader. Dalam laporan terbarunya, mereka menilai harga perak yang sempat melambung tinggi beberapa waktu lalu sebenarnya sudah masuk kategori “mahal”. Inilah yang membuat perak sangat rapuh dan mudah ambruk saat ada sentimen negatif sedikit saja di pasar.

Meski begitu, bagi pemegang aset jangka panjang, JP Morgan masih memberikan angin segar. Mereka memprediksi batas bawah harga perak di kisaran US$ 75 hingga US$ 80 per ons dalam jangka pendek. Jika badai ekonomi mereda, perak punya potensi untuk kembali terbang menuju US$ 90 per ons pada tahun depan.

Menanti Langkah The Fed di Tengah Gejolak Ekonomi

Kunci utama yang akan menentukan ke mana arah harga logam mulia di sisa tahun 2026 adalah kebijakan suku bunga The Fed. Saat ini, pasar berekspektasi bahwa bank sentral AS tersebut akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali, masing-masing sebesar 25 basis poin.

Pemangkasan pertama diprediksi baru akan terjadi pada Juni 2026. Logikanya sederhana: saat suku bunga turun, emas biasanya akan naik daun. Mengapa? Karena emas adalah aset yang tidak memberikan bunga atau imbal hasil rutin. Jadi, saat bunga bank rendah, memegang emas menjadi jauh lebih menarik dibandingkan menyimpan uang di deposito atau obligasi.

Kabar dari Logam Mulia Lainnya: Platinum dan Palladium Lesu

Kondisi kurang menguntungkan juga menimpa logam grup platinum. Harga platinum spot terjun 2,48% ke level US$ 1.941,82 per ons. Padahal, belum lama ini—tepatnya pada 26 Januari—platinum sempat mencetak sejarah dengan menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di angka US$ 2.918,80.

Penurunan ini menunjukkan betapa cepatnya arah angin di pasar komoditas berubah. Palladium pun setali tiga uang, turun 1,09% ke level US$ 1.638,77. Secara keseluruhan, pekan ini menjadi pekan yang melelahkan bagi para investor logam mulia.

Bagi kita yang memantau pasar, momentum saat ini adalah tentang bertahan. Kenaikan hari ini mungkin memberikan sedikit napas lega, namun selama Dolar AS masih perkasa dan bursa saham Wall Street masih merah membara, volatilitas tinggi tetap menjadi teman akrab di meja perdagangan. Tetap waspada dan perhatikan level-level kunci sebelum memutuskan untuk masuk ke pasar.

Recommended