BJ Habibie, seorang pemuda asal Sulawesi Selatan, menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Ia membuktikan bahwa kecintaan pada negara bukan hanya sekadar rasa memiliki, tetapi juga kemauan untuk memberikan kontribusi sesuai kemampuan.
Habibie memilih untuk kembali ke Indonesia pada tahun 1974, meninggalkan kariernya yang gemilang di Jerman. Keputusan ini didorong oleh panggilan Ibu Pertiwi dan keinginan untuk membangun bangsa.
Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Ia adalah anak keempat dari delapan bersaudara pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Sejak kecil, Habibie dikenal sebagai sosok yang tegas dan berprinsip.
Setelah ayahnya meninggal dunia pada 3 September 1950, Habibie pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan. Di SMA, prestasinya mulai menonjol, terutama di bidang eksakta.
Pendidikan dan Karier BJ Habibie
Perjalanan pendidikan dan karier Habibie penuh dengan lika-liku, namun sangat menginspirasi.
Kuliah di ITB dan Pindah ke Jerman
Setelah lulus SMA di Bandung pada tahun 1954, Habibie melanjutkan pendidikan ke Universitas Indonesia Bandung (ITB). Setelah satu tahun, ia memutuskan untuk melanjutkan studi ke Jerman dan meraih gelar Diploma dari Technische Hochschule pada tahun 1960, kemudian gelar doktor pada tahun 1965.
Kuliah Mandiri dengan Biaya Ibu
Berbeda dengan kebanyakan mahasiswa Indonesia di Eropa yang menerima beasiswa negara, Habibie berangkat ke Jerman dengan biaya sendiri. Ibunya membuka indekos dan katering di Bandung untuk membiayai pendidikannya.
"Di tengah karier yang gemilang di Eropa, B. J. Habibie memilih pulang ke Indonesia. Sebuah keputusan yang lahir dari keyakinan bahwa ilmu yang diperoleh dapat memberi manfaat lebih luas bagi tanah air. Bagi beliau, cinta pada negeri bukan sekadar rasa memiliki, melainkan kesediaan untuk berkontribusi sesuai kemampuan yang dimiliki," tulis akun Instagram @wismahabibieainun, dikutip Sabtu, 28 Februari 2026.
Ibunda Habibie menolak tawaran beasiswa, berpegang pada sumpah di depan jasad suaminya bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawabnya.
Meraih Gelar Doktor Summa Cum Laude
Setelah 10 tahun kuliah di Jerman, Habibie meraih gelar Doktor konstruksi pesawat terbang dari Technische Hochschule pada tahun 1965 dengan predikat Summa Cum Laude.
Karier Meroket di Jerman
Karier Habibie menanjak pesat setelah lulus. Ia menjadi Vice President sekaligus Direktur Teknologi di Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), perusahaan penerbangan raksasa Jerman, dan diangkat sebagai Profesor Kehormatan di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1967.
Kembali ke Indonesia
Pada tahun 1974, Habibie meninggalkan kenyamanan Eropa dan memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk membangun Indonesia, teringat pesan ayahnya untuk menjadi mata air yang jernih.
Mengabdi dan Menjadi Presiden RI
Habibie menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi selama 20 tahun, memimpin 10 perusahaan BUMN strategis, hingga akhirnya menjadi Presiden RI ke-3 menggantikan Soeharto.
"Bagi Eyang Pendidikan tinggi sejatinya bukan sekadar tiket untuk lari mencari kenyamanan pribadi, melainkan bekal untuk kembali dan membangun negeri. Di bulan Ramadan, saat kita menata ulang niat dan pengabdian, kisah ini mengingatkan bahwa setiap kesempatan dan pengetahuan yang dititipkan kepada kita dapat menjadi jalan kebaikan bagi sesama dan bagi negeri," tulisnya.
Kisah BJ Habibie mengajarkan bahwa cinta pada negeri adalah tentang berkontribusi sesuai kemampuan.