Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merumuskan strategi pengendalian populasi ikan sapu-sapu melalui opsi pemanfaatan budidaya di Jakarta pada Kamis (30/4/2026). Langkah ini dipertimbangkan jika upaya eradikasi atau pemusnahan dinilai tidak cukup untuk menekan jumlah spesies asing tersebut di perairan Indonesia.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu merupakan spesies asing yang memiliki potensi dikembangkan untuk ketahanan pangan. Karakteristik ini serupa dengan ikan nila, mas, mujair, dan lele yang awalnya dimasukkan ke Indonesia karena mudah dikembangbiakkan.
Dilansir dari Detik iNET, Triyanto menyoroti bahwa citra negatif ikan sapu-sapu saat ini menyerupai stigma ikan lele pada era 1980-an yang sempat dihindari karena hidup di tempat kotor. Namun, konsumsi lele meningkat pesat setelah adanya teknik budidaya di fasilitas bersih yang sesuai standar kesehatan.
Tantangan utama dalam pemanfaatan ikan sapu-sapu adalah kandungan logam berat seperti timbal, merkuri, kadmium, dan kromium yang ditemukan pada ikan di alam liar. Kandungan tersebut, beserta bakteri E. coli, berisiko menyebabkan kerusakan organ hati dan ginjal jika dikonsumsi manusia secara terus-menerus.
"Jadi masyarakat yang sudah terlanjur cinta sapu-sapu, ada solusinya kita bersihkan, kita kembangkan, kita pelihara di perairan yang bersih," kata Triyanto, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN. Ia menegaskan bahwa akumulasi logam berat terjadi karena habitat aslinya yang tercemar.
Ikan hasil budidaya nantinya dapat difungsikan untuk berbagai keperluan, mulai dari pakan ikan non-konsumsi, bahan baku pupuk, hingga arang. Selain itu, Triyanto menanggapi isu penggunaan daging ikan sapu-sapu pada siomay dan batagor yang menurutnya masih dalam batas aman selama tidak dikonsumsi secara berlebihan.
Berdasarkan kajian kesehatan, seseorang baru akan terpapar risiko logam berat jika mengonsumsi sekitar 8 kilogram daging ikan sapu-sapu dalam seminggu secara konsisten. Pada produk olahan seperti siomay, komposisi ikan sapu-sapu biasanya hanya berkisar 20 hingga 30 persen dari total berat makanan.