CEO QatarEnergy Peringatkan Risiko Serangan ke Fasilitas Iran

CEO QatarEnergy telah lama memperingatkan risiko jika konflik dengan Iran memanas, terutama fasilitas energi menjadi target.

CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi, mengungkapkan bahwa dirinya telah lama mewanti-wanti risiko besar jika konflik dengan Iran meningkat, terutama jika fasilitas energi Iran menjadi sasaran. Hal ini disampaikannya dalam wawancara eksklusif dengan Reuters, Minggu (22/3/2026).

Al-Kaabi mengaku telah menyampaikan peringatan ini kepada para eksekutif sektor minyak dan gas yang bermitra dengan Qatar, serta kepada Menteri Energi AS, mengenai konsekuensi yang dapat merugikan semua pihak.

Pernyataan ini muncul setelah serangan rudal Iran menghantam kompleks LNG Ras Laffan di Qatar, salah satu fasilitas gas alam cair terbesar di dunia. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur penting dan mengganggu pasokan energi global.

Serangan tersebut menyebabkan hilangnya sekitar 17% kapasitas ekspor LNG Qatar. Proses pemulihan diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun, yang juga menunda rencana ekspansi produksi gas negara tersebut.

Gangguan ini berpotensi menimbulkan dampak yang luas, mengingat Qatar merupakan salah satu pemasok utama gas untuk Eropa dan Asia. Terganggunya pasokan dalam jangka waktu yang lama dapat memicu kenaikan harga energi global.

Al-Kaabi menjelaskan bahwa pihaknya telah mengantisipasi kemungkinan serangan dengan mengevakuasi sekitar 10.000 pekerja lepas pantai dalam waktu 24 jam, sehingga tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Dia juga menekankan bahwa dirinya telah berulang kali memperingatkan pejabat AS dan mitra industri migas internasional tentang potensi efek domino jika fasilitas energi Iran menjadi target serangan terlebih dahulu.

Serangan terhadap fasilitas energi ini tidak hanya berdampak pada sektor gas, tetapi juga memicu perlambatan aktivitas ekonomi di kawasan Teluk, termasuk sektor pariwisata, perdagangan, dan pendapatan pemerintah.

Konflik yang menyasar infrastruktur energi dinilai dapat memicu krisis energi global yang lebih luas, karena rantai pasok gas dan minyak dunia sangat bergantung pada stabilitas kawasan tersebut.

Menurut al-Kaabi, pemulihan produksi gas tidak dapat dilakukan dengan cepat. Qatar memerlukan penghentian konflik sebelum dapat memulai proses pemulihan fasilitas dan menormalkan kembali ekspor energi.

Recommended