Harga emas dunia terpantau masih kesulitan mencari tenaga untuk bangkit setelah Bank Sentral Eropa (ECB) memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga acuannya pada Kamis (5/2/2026). Keputusan ini membuat aset aman (safe haven) tersebut kehilangan momentum penguatan dan justru terjebak dalam tren koreksi yang cukup dalam di pasar spot.
Hingga penutupan pasar pekan ini, pergerakan harga emas terus menunjukkan tekanan jual yang masif di tengah ketidakpastian kebijakan moneter zona euro. Para pelaku pasar tampaknya merespons dingin pengumuman ECB, yang mengakibatkan nilai logam mulia ini merosot tajam dibandingkan sesi perdagangan sebelumnya.
Tekanan Jual di Tengah Kebijakan ECB
Melansir data dari Kitco News, Jumat (6/2/2026), harga emas spot terakhir berada di level 4.115,47 euro, atau setara dengan US$ 4.850 per troy ons. Angka ini mencerminkan penurunan yang cukup signifikan, yakni lebih dari 2 persen hanya dalam waktu satu hari perdagangan.
ECB sendiri memilih bermain aman dengan mempertahankan suku bunga fasilitas deposito di angka 2,00 persen. Sementara itu, untuk operasi refinancing utama tetap di level 2,15 persen, dan fasilitas pinjaman marjinal berada pada posisi 2,40 persen. Langkah ini sebenarnya sudah diprediksi oleh banyak analis, namun pasar berharap ada sinyal lebih kuat terkait pelonggaran kebijakan di masa depan.
Hingga saat ini, Bank Sentral Eropa masih bersikeras menjaga target inflasi di level 2 persen. Sikap yang cenderung kaku ini membuat emas, yang biasanya diuntungkan saat suku bunga turun, menjadi kurang menarik di mata investor jangka pendek.
Ekonomi Global Tangguh, Tapi Penuh Risiko
Dalam keterangan resminya, ECB menekankan bahwa kondisi ekonomi saat ini sebenarnya masih cukup kokoh meskipun dibayangi berbagai tantangan global. Tingkat pengangguran yang rendah serta neraca sektor swasta yang solid menjadi benteng pertahanan ekonomi di kawasan tersebut.
“Ekonomi tetap tangguh dalam lingkungan global yang menantang. Tingkat pengangguran rendah, neraca sektor swasta yang solid, serta efek pendukung dari pemotongan suku bunga sebelumnya masih menopang pertumbuhan,” tulis pernyataan resmi ECB.
Namun, ECB juga tidak menutup mata terhadap awan mendung yang menyelimuti prospek ekonomi ke depan. Mereka mengakui bahwa ketidakpastian kebijakan perdagangan global dan tensi geopolitik yang kian memanas bisa mengubah peta kekuatan ekonomi sewaktu-waktu.
Prediksi Jangka Panjang: Emas Masih Punya Taji?
Meski saat ini harga emas sedang tertekan, banyak analis besar tetap optimistis terhadap prospek logam mulia ini dalam jangka panjang. Salah satu proyeksi yang paling berani datang dari JPMorgan. Bank investasi raksasa ini melihat adanya potensi lonjakan harga yang fantastis hingga akhir tahun depan.
JPMorgan memproyeksikan harga emas bisa menembus angka US$ 6.300 per troy ons pada penghujung tahun 2026. Analis bank tersebut menilai bahwa tren diversifikasi cadangan devisa oleh berbagai negara masih menjadi mesin utama penggerak harga.
“Tren diversifikasi yang berkelanjutan telah mendorong harga emas ke rekor tertinggi dalam beberapa minggu terakhir,” tulis analis JPMorgan dalam catatan resminya.
Strategi Investor di Tengah Fluktuasi Harga
Bagi masyarakat dan investor ritel, fluktuasi yang terjadi saat ini merupakan pengingat bahwa pasar emas sangat sensitif terhadap kebijakan bank sentral dunia, bukan hanya The Fed (AS) tetapi juga ECB. Koreksi harga sebesar 2 persen dalam sehari merupakan momentum bagi mereka yang ingin melakukan akumulasi bertahap dengan melihat prospek jangka panjang yang diprediksi masih bullish.
Meski demikian, pengamat menyarankan agar tetap waspada terhadap volatilitas harian. Ketahanan ekonomi yang diklaim oleh ECB serta belanja publik untuk infrastruktur dan pertahanan bisa saja membuat inflasi tetap membandel, yang pada gilirannya akan menahan bank sentral untuk memangkas suku bunga lebih cepat.