Ekonom Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 di Bawah Target

Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 diperkirakan di bawah target pemerintah. Lebaran dinilai tak seramai tahun sebelumnya.

Hari Raya Lebaran 2026 diharapkan menjadi stimulus utama pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026. Pemerintah meyakini peningkatan konsumsi rumah tangga dan arus mudik akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,5% atau lebih.

Namun, Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I 2026 tidak akan mencapai target pemerintah, hanya sekitar 5,4%, sedikit di bawah target.

Menurut Tauhid, perkiraan ini didasarkan pada perayaan Hari Raya Lebaran yang tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, sehingga dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi terbatas.

"Menurut saya kuartal I pertumbuhan ekonomi kita paling tinggi itu 5,4%. Tentu akan ada daya dorong. Daya dorongnya itu berkaitan dengan Hari Raya Lebaran dan kemarin puasa. Tetapi kalau kita lihat pada fenomena akhir-akhir ini kan ada penurunan sedikit. Terutama untuk Lebaran ini daripada tahun lalu," kata Tauhid kepada detikcom, Rabu (25/3/2026).

Tauhid menambahkan, konsumsi yang diharapkan lebih tinggi ternyata tidak terealisasi, sehingga tidak dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Secara rinci, Tauhid menjelaskan pertumbuhan ekonomi 5,4% didukung oleh belanja pemerintah yang ekspansif, terutama pada program prioritas dan bantuan sosial, yang membantu menjaga daya beli masyarakat.

"Yang mendorong ekonomi kita agak tinggi 5,4% ya ekspansi fiskalnya masih berjalan. Bantuan sosial, MBG, dan sebagainya itu untuk mempertahankan daya beli masyarakat," terangnya.

Selain itu, Tauhid juga menyoroti dampak bencana Sumatera pada akhir 2025 yang masih terasa pada kuartal II 2026. Pemulihan ekonomi di wilayah terdampak berjalan lambat, sehingga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.

"Tiga provinsi itu pengaruh, tetapi pengaruhnya tidak sebesar kalau itu terjadi di Jawa. Tapi pengaruh, itu saya kira itu juga mempengaruhi kenapa pertumbuhan ekonomi kita tidak tumbuh 5,5% ke atas," ujar Tauhid.

Inflasi yang tinggi juga turut menahan konsumsi masyarakat selama bulan puasa dan Lebaran, sehingga dorongan ekonomi dari perayaan ini tidak maksimal.

"Tetapi yang membuat tidak tumbuh lebih tinggi daripada perkiraan pemerintah, sebenarnya fenomena konsumsi agak sedikit tertahan karena inflasi tinggi. Terutama oleh fenomena kenaikan harga-harga menjelang hari raya maupun puasa di beberapa komponen kebutuhan pokok," tegasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 hanya mencapai 5,05%, jauh di bawah target pemerintah. Hal ini disebabkan oleh perayaan Lebaran yang kurang meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Idealnya bisa diatas 5,05%. Tapi ada beberapa tantangan yang menghambat konsumsi rumah tangga. Pertama, banyak yang siapkan THR untuk ditabung, bukan dibelanjakan karena ada kekhawatiran naiknya harga energi dan pangan pasca Lebaran," ujarnya.

Bhima juga menyoroti terbatasnya penciptaan lapangan kerja di kota yang terlihat dari jumlah arus balik yang tidak seramai biasanya. Inflasi yang tinggi pada awal tahun juga menekan konsumsi masyarakat.

"Arus balik yang belum optimal karena lapangan kerja di kota terbatas, biasanya pencari kerja ikut ke kota. Pengendalian inflasi pra dan paska mudik sehingga thr dapat lebih optimal dibelanjakan. Penciptaan lapangan kerja mendesak agar jumlah pemudik tumbuh lebih tinggi dan berkualitas," jelas Bhima.

Recommended