Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Kuartal I-2026

PDB Indonesia tumbuh 5,61 persen YoY pada kuartal I-2026 didorong konsumsi domestik, meski aliran modal asing masih mencatatkan net sell di pasar saham.

Badan Pusat Statistik melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan (YoY) pada kuartal I-2026, sebuah pencapaian yang melampaui ekspektasi pasar di tengah tekanan volatilitas nilai tukar rupiah.

Dilansir dari Medcom, kenaikan pertumbuhan ekonomi ini memicu penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,22 persen ke level 7.057,11 pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026, setelah sebelumnya berada di posisi 6.971,95.

Meski indikator makro ekonomi menguat, investor asing justru mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp518,39 miliar di seluruh pasar modal pada hari yang sama. Kondisi tersebut dibarengi dengan tekanan pada nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp17.400 per USD.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan bahwa penguatan bursa domestik saat ini masih sangat dipengaruhi oleh sentimen global dan belum sepenuhnya mencerminkan perubahan fundamental yang kokoh.

"Selama volatilitas rupiah masih tinggi, investor global cenderung akan tetap berhati-hati dalam meningkatkan eksposur terhadap aset berdenominasi rupiah," kata Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia pada Rabu, 6 Mei 2026.

Penopang utama pertumbuhan ekonomi pada periode ini adalah belanja pemerintah yang melonjak hingga 21,8 persen YoY serta tingginya konsumsi rumah tangga selama momentum Ramadan dan Lebaran. Namun, secara kuartalan (QoQ), ekonomi terpantau mengalami kontraksi 0,8 persen.

Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, memproyeksikan pertumbuhan akan mengalami normalisasi pada kuartal berikutnya seiring berakhirnya dampak stimulus fiskal dan efek musiman hari raya.

Sektor eksternal mulai menunjukkan tantangan berupa perlambatan kinerja ekspor dan kontraksi di sektor pertambangan akibat penurunan harga komoditas dunia. Bank Indonesia diprediksi tetap mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75 persen sepanjang tahun 2026 untuk menjaga stabilitas moneter.

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada Market Accessibility Review oleh MSCI yang dijadwalkan pada Juni 2026 serta langkah pemerintah dalam menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Recommended