Filipina Siapkan Dana Darurat Energi Rp 5,6 Triliun

Filipina mengaktifkan dana darurat energi 20 miliar peso (Rp 5,6 triliun) di tengah fluktuasi harga minyak dunia.

Filipina mengalokasikan sejumlah dana untuk memperkuat pasokan bahan bakar nasional menyusul pengumuman status darurat energi.

Kementerian Energi Filipina telah mengaktifkan dana darurat sebesar 20 miliar peso, setara dengan US$ 333 juta atau sekitar Rp 5,6 triliun (dengan kurs Rp 16.899). Langkah ini diambil sebagai respons terhadap fluktuasi harga minyak dunia yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

Pemerintah Filipina berencana membeli hingga dua juta barel bahan bakar untuk memperkuat pasokan domestik, termasuk minyak bumi olahan dan gas minyak cair. Sebelumnya, pada Rabu (25/3), Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyatakan bahwa stok cadangan minyak nasional hanya cukup untuk sekitar 45 hari.

Ketergantungan Filipina pada impor minyak mentah dari Timur Tengah, terutama Arab Saudi, membuat negara ini rentan terhadap lonjakan harga dan gangguan pasokan global.

"Langkah ini menunjukkan tekad kuat pemerintah untuk melindungi rakyat Filipina dari guncangan pasokan eksternal, serta memastikan ketersediaan bahan bakar yang berkelanjutan memadai dan andal di seluruh negeri," tulis pernyataan resmi Kementerian Energi Filipina, dikutip Reuters, Kamis (26/3/2026).

Sebelumnya, Filipina menetapkan status darurat energi nasional karena ketergantungan pada impor produk minyak bumi. Pemerintah membentuk komite untuk memastikan kelancaran pasokan, distribusi, dan ketersediaan bahan bakar, makanan, obat-obatan, produk pertanian, dan barang-barang penting lainnya.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menjelaskan, "Deklarasi keadaan darurat energi nasional akan memungkinkan pemerintah untuk menerapkan langkah-langkah responsif dan terkoordinasi berdasarkan undang-undang yang ada untuk mengatasi risiko yang ditimbulkan oleh gangguan dalam pasokan energi global dan ekonomi domestik."

Recommended