Penyakit tidur misterius yang melanda penduduk di Kota Kalachi dan Krasnogorsk, Kazakhstan, dipastikan terjadi akibat tingginya kadar gas karbon monoksida dan hidrokarbon yang berasal dari tambang uranium telantar. Fenomena aneh yang membuat korbannya tertidur lelap selama berhari-hari ini sempat memicu kepanikan massal hingga penyelidikan mendalam oleh otoritas setempat.
Kondisi medis yang tidak biasa ini memicu gejala berupa hilangnya kesadaran secara mendadak, penglihatan ganda, halusinasi, hingga perilaku menggerakkan tubuh tanpa sadar sebelum korban jatuh pingsan. Dilansir dari Detik iNET berdasarkan laporan IFLScience pada Jumat (22/5/2026), kasus pertama yang tercatat menimpa seorang perempuan paruh baya bernama Lyubov Belkova saat sedang bekerja di pasar pada April 2010.
Gejala serupa kemudian meluas ke warga lainnya, termasuk lima perempuan yang jatuh sakit secara bersamaan, seorang anak kecil bernama Misha Plyukhin, hingga seekor kucing bernama Marquis. Berdasarkan catatan resmi, terdapat lebih dari 140 insiden serupa yang dilaporkan terjadi di Kota Kalachi dan kota tetangganya, Krasnogorsk, dalam kurun waktu lima tahun.
Pemerintah Kazakhstan sempat mencurigai konsumsi vodka palsu, histeria massal, hingga radiasi nuklir sebagai penyebab utama di awal penyelidikan mereka. Namun, pengujian radiasi di lebih dari 7.000 rumah menunjukkan kadar zat radioaktif yang terlalu rendah, dan gejalanya tidak sesuai dengan dampak klinis keracunan radiasi yang biasanya merusak organ tubuh.
Misteri ini akhirnya terpecahkan pada tahun 2015 setelah hasil pemeriksaan medis mendalam berhasil mengidentifikasi tingginya akumulasi gas beracun dari bekas tambang uranium yang telah ditutup sejak jatuhnya Uni Soviet. Gas karbon monoksida tersebut mengikat darah 200 kali lebih efektif daripada oksigen, sehingga memicu kelangkaan oksigen ke otak yang menyebabkan kantuk parah dan hilangnya kesadaran.
"Tambang uranium pernah ditutup, dan ada kalanya terjadi konsentrasi karbon monoksida di sana," kata wakil Perdana Menteri Kazakhstan, Berdibek Saparbaev, saat mengumumkan hasil penyelidikan pada musim panas 2015 sebagaimana dilaporkan Guardian.
Pemerintah kemudian mengevakuasi sisa penduduk yang bertahan di wilayah tersebut demi keselamatan mereka.
"Oksigen di udara berkurang, itulah penyebab sebenarnya penyakit tidur di desa-desa ini," lanjut Berdibek Saparbaev.
Kendati demikian, sejumlah ilmuwan sempat mempertanyakan kaitan langsung tersebut mengingat tambang sudah tidak aktif sejak awal tahun 1990-an.
"Oksigen di udara berkurang, itulah penyebab sebenarnya penyakit tidur di desa-desa ini," kata Claude Piantadosi, ahli paru di Duke University Medical Center kepada Wired, yang menyatakan kemungkinan adanya keterlibatan gas lain termasuk karbon dioksida.
Pusat Nuklir Nasional Kazakhstan dalam laporan Mental Floss tahun 2016 akhirnya mengonfirmasi bahwa kelebihan karbon monoksida dari tambang uranium adalah penyebab utama penyakit tersebut, walaupun beberapa pertanyaan detail lainnya masih belum terjawab sepenuhnya.