Pasar modal Indonesia baru saja melewati fase perdagangan yang cukup menegangkan pada penutupan pekan pertama Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhempas cukup dalam ke level 7.935,2 setelah mengalami tekanan jual yang masif sepanjang hari. Penurunan sebesar 2,08% ini seolah menjadi pengingat bagi para trader bahwa volatilitas pasar masih tinggi di tengah berbagai sentimen makro yang berkembang, baik dari domestik maupun tekanan global yang memicu aksi ambil untung di bursa kita.
Namun, di balik rontoknya indeks, ada anomali menarik yang patut dicermati oleh para pelaku pasar. Investor asing justru terpantau mengambil posisi berlawanan dengan arus besar (kontrarian) dengan melakukan akumulasi beli. Fenomena “belanja di saat diskon” ini tercermin dari angka net buy asing yang mencapai hampir Rp 1 triliun di seluruh pasar. Langkah pemodal kakap internasional ini memberikan sinyal bahwa fundamental emiten-emiten big cap kita dianggap masih sangat kokoh meski harga sahamnya sedang mengalami tekanan jangka pendek.
Fokus aliran dana asing kali ini tertuju pada sektor perbankan dan komoditas, dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memimpin di urutan teratas sebagai saham yang paling banyak diburu. Aksi serok ini memberikan harapan bahwa koreksi IHSG mungkin bersifat teknikal dan sementara. Bagi Anda yang sedang memantau portofolio, memahami peta pergerakan dana asing (foreign flow) adalah kunci untuk memprediksi ke mana arah angin bursa dalam 24 hingga 72 jam ke depan saat pasar dibuka kembali minggu depan.
Bedah Pergerakan IHSG dan Dominasi Net Buy Asing
Koreksi IHSG yang mencapai 168,62 poin pada Jumat (6/2/2026) memang terlihat mengkhawatirkan secara visual pada chart harian. Sebanyak 673 saham mengalami penurunan harga, yang menunjukkan bahwa tekanan jual terjadi hampir merata di seluruh sektor. Namun, tingginya volume perdagangan yang mencapai 32,8 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 19,27 triliun mengindikasikan adanya perlawanan beli yang cukup kuat di area support.
Kehadiran investor asing yang mencatatkan beli bersih senilai Rp 944,41 miliar menjadi penahan agar indeks tidak terjatuh lebih dalam di bawah level psikologis 7.900. Strategi akumulasi ini seringkali menjadi indikator bahwa valuasi saham-saham blue chip sudah masuk dalam kategori menarik pasca koreksi tajam.
Perbankan dan Komoditas Masih Jadi Primadona
Sektor perbankan tetap menjadi tulang punggung kepercayaan investor asing terhadap ekonomi Indonesia. BMRI mendominasi dengan nilai beli bersih yang sangat kontras dibandingkan emiten lainnya. Selain perbankan, sektor energi dan mineral seperti BUMI dan BRMS juga kembali dilirik. Hal ini kemungkinan besar dipicu oleh proyeksi permintaan komoditas global yang stabil serta kinerja laporan keuangan tahunan 2025 yang mulai rilis dengan hasil memuaskan.
Daftar 10 Saham dengan Akumulasi Asing Terbesar
Berikut adalah rincian 10 emiten yang menjadi incaran utama investor asing saat IHSG mengalami pelemahan signifikan pada akhir pekan ini:
1. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)
Saham perbankan pelat merah ini menjadi bintang utama dengan catatan net buy mencapai Rp 679,9 miliar. Asing nampaknya sangat percaya diri dengan prospek dividen dan pertumbuhan kredit BMRI di tahun 2026.
2. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
Di sektor batu bara, BUMI mencatatkan aksi beli bersih senilai Rp 171,4 miliar. Efisiensi operasional dan perbaikan struktur permodalan perusahaan nampaknya mulai diapresiasi kembali oleh pasar internasional.
3. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)
Raksasa telekomunikasi ini tidak ketinggalan diserok asing dengan nilai Rp 157,6 miliar. TLKM tetap dianggap sebagai aset aman (defensive stock) saat pasar sedang bergejolak.
4. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
Sentimen harga emas dan nikel membawa ANTM masuk dalam radar asing dengan net buy sebesar Rp 66,07 miliar.
5. PT Astra International Tbk (ASII)
Sebagai barometer ekonomi domestik, ASII mencatatkan beli bersih Rp 58,5 miliar, menunjukkan keyakinan pada daya beli masyarakat di sektor otomotif dan alat berat.
6. Emiten Lainnya dalam Top 10 Net Buy
Beberapa emiten dari sektor mineral, properti, dan telekomunikasi lainnya yang juga masuk dalam daftar adalah:
-
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): Rp 56,1 miliar
-
PT XL Axiata Tbk (EXCL): Rp 40,14 miliar
-
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI): Rp 33,95 miliar
-
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA/EMAS): Rp 33,45 miliar
-
PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR): Rp 32,22 miliar
Meskipun IHSG ditutup di zona merah dengan penurunan yang cukup dalam, kehadiran dana asing yang hampir menyentuh angka Rp 1 triliun memberikan angin segar. Aksi beli pada saham-saham strategis seperti BMRI dan BUMI menunjukkan bahwa minat terhadap pasar modal Indonesia belum luntur. Koreksi ini justru bisa menjadi momentum bagi investor yang memiliki dana tunai untuk mulai mencicil beli saham-saham unggulan dengan harga yang lebih terjangkau.
Tetap pantau rilis data ekonomi terbaru dan pergerakan bursa global selama akhir pekan untuk mengantisipasi arah pembukaan pasar di hari Senin mendatang. Dalam dunia saham, ketenangan dalam menghadapi koreksi seringkali menjadi pembeda antara mereka yang meraih cuan dan mereka yang terjebak dalam kerugian.