Kisah perjalanan ibadah haji dan umrah Nabi Muhammad SAW merekam lembaran sejarah yang luar biasa, sarat dengan pelajaran dan momen yang membentuk peradaban. Puncak dari perjalanan suci ini terjadi pada 9 Zulhijah, ketika Rasulullah SAW menyampaikan khotbah bersejarah di lembah Uranah, Padang Arafah. Beberapa bulan setelah menunaikan haji tersebut, beliau wafat dengan tenang di Madinah.
Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia memenuhi panggilan Allah SWT untuk berkumpul di Tanah Suci. Mereka datang dengan tujuan meneladani perjalanan suci yang ditempuh oleh manusia termulia, Rasulullah SAW, seperti dilansir dari Medcom.
Sebagai utusan Allah SWT, setiap ibadah yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW menjadi panduan wajib bagi seluruh umatnya. Ini termasuk ibadah haji dan umrah, di mana tata caranya hingga kini masih bersumber dari ajaran dan contoh langsung beliau di Tanah Suci.
Pada awal tahun 10 Hijriah, Rasulullah SAW mengumumkan niatnya untuk menunaikan haji dan mengajak seluruh umat Islam untuk ikut serta. Jabir bin Abdullah RA meriwayatkan, saat pengumuman itu tersebar, ribuan orang dari berbagai penjuru berduyun-duyun menuju Madinah demi berhaji bersama Rasulullah.
Rasulullah SAW berangkat dari Madinah ketika masih tersisa lima hari di bulan Zulkaidah, diiringi lautan manusia yang ingin meneladani setiap langkahnya. Haji yang ditunaikan saat itu kemudian dikenal sebagai Hajjatul Wada atau Haji Perpisahan, karena menjadi haji pertama sekaligus terakhir dalam hidup beliau.
Puncak dari perjalanan suci ini terjadi pada 9 Zulhijah, di mana Rasulullah SAW berdiri di lembah Uranah, Padang Arafah. Beliau menyampaikan khotbah bersejarah yang menegaskan kesetaraan manusia, kesucian darah dan harta, serta pesan abadi tentang keadilan dan persaudaraan yang relevan bagi seluruh umat manusia hingga kini.
Beberapa bulan setelah menunaikan haji tersebut, Rasulullah SAW wafat dengan tenang di Madinah. Oleh karena itu, Hajjatul Wada dianggap sebagai puncak dan penyempurnaan dari seluruh perjalanan hidup serta misi kenabian Rasulullah SAW.
Empat Kali Umrah Rasulullah SAW
Meskipun hanya sekali berhaji, Rasulullah SAW tercatat empat kali menunaikan umrah setelah hijrah ke Madinah, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas RA. Keempat umrah ini memiliki latar belakang dan kisah yang berbeda-beda:
1. Umrah Hudaibiyah (6 Hijriah)
Umrah pertama terjadi ketika Rasulullah SAW dan para sahabat berniat memasuki Makkah, namun perjalanan mereka dihadang oleh kaum Quraisy di kawasan Hudaibiyah. Peristiwa ini berujung pada penandatanganan Perjanjian Hudaibiyah yang, meskipun awalnya tampak merugikan, justru menjadi kemenangan besar bagi perkembangan Islam.
2. Umratul Qadha (7 Hijriah)
Umrah kedua ditunaikan sebagai pemenuhan kesepakatan dalam Perjanjian Hudaibiyah, yang memperbolehkan umat Islam memasuki Makkah. Rasulullah SAW beserta lebih dari 1.400 sahabat tinggal di Makkah selama tiga hari sebelum kembali ke Madinah.
3. Umrah dari Ji'ranah (8 Hijriah)
Umrah ketiga dilaksanakan ketika Rasulullah SAW dalam perjalanan pulang dari Thaif, usai membagikan rampasan perang Hunain kepada para sahabat. Beliau mengambil miqat dari Ji'ranah sebelum memasuki Makkah untuk menunaikan umrah.
4. Umrah Bersama Hajjatul Wada (10 Hijriah)
Umrah keempat sekaligus yang terakhir ini ditunaikan bersamaan dengan pelaksanaan Hajjatul Wada, haji perpisahan Rasulullah SAW. Umrah ini menyempurnakan seluruh rangkaian ibadah beliau di Tanah Suci sebelum beberapa bulan kemudian wafat di Madinah.
Warisan Abadi dari Perjalanan Suci
Meski Rasulullah SAW hanya sekali berhaji, warisan tata cara dan semangat haji yang beliau tinggalkan menjadi pedoman bagi seluruh umat Islam sepanjang zaman. Setiap gerakan, doa, dan keputusan beliau selama Hajjatul Wada diabadikan secara rinci dalam literatur hadis, menjadi rujukan utama pelaksanaan haji hingga hari ini.