Harga aluminium di pasar global mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai level tertinggi sejak 2022 akibat eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Rabu (6/5/2026). Kenaikan harga komoditas ini mulai mencekik sektor manufaktur dunia, terutama industri otomotif dan produsen minuman kemasan.
Data dari London Metal Exchange (LME) yang dilansir dari Detik Finance menunjukkan harga aluminium telah meroket lebih dari 13 persen sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Secara kumulatif, harga logam ringan ini tercatat sudah membumbung sekitar 19 persen sepanjang tahun 2026.
Analis dari Bernstein, Bob Brackett, menjelaskan bahwa kenaikan ini didorong oleh ancaman penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pengiriman logistik. Wilayah Timur Tengah sendiri berkontribusi memasok sekitar 7 persen dari total kebutuhan aluminium global ke berbagai negara.
"Harga aluminium naik seiring dengan biaya input. Ada risiko kenaikan harga yang berdampak positif pada aluminium, bukan hanya karena terganggunya rantai pasokan, tetapi juga karena terganggunya sumber energi," kata Brackett, Analis Bernstein, dalam sebuah memo resmi.
Selain masalah logistik, tingginya biaya energi seperti gas alam dan batu bara akibat perang turut membebani proses produksi aluminium yang boros energi. Kondisi ini memberikan tekanan ganda pada struktur harga jual logam tersebut di pasar internasional.
Dampak finansial mulai dirasakan oleh produsen otomotif raksasa asal AS, Ford, yang melaporkan pembengkakan biaya produksi. Perusahaan memperkirakan hambatan biaya komoditas mencapai lebih dari US$ 2 miliar, atau melonjak dua kali lipat dari proyeksi awal sebelum konflik pecah.
Kepala Bagian Keuangan Ford, Sherry House, mengungkapkan bahwa perang telah mengaburkan keterjangkauan komponen kunci untuk produk unggulan mereka, truk pikap F-150. Ia mencatat industri sebenarnya sudah menghadapi kekurangan pasokan baja dan aluminium bahkan sebelum situasi di Timur Tengah memanas.
Sektor minuman kemasan seperti Molson Coors juga terdampak dengan tambahan biaya pokok penjualan sebesar US$ 30 juta pada kuartal pertama tahun ini. Meskipun telah menggunakan kaleng daur ulang selama puluhan tahun, produsen bir tersebut tetap mewaspadai berlanjutnya tren inflasi komoditas pada kuartal berikutnya.