Lonjakan harga bahan bakar pesawat atau avtur memicu tekanan berat pada industri kargo udara global sejak awal 2026 akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan gangguan rantai pasok energi global. Kondisi ini memaksa pelaku usaha mengalihkan strategi logistik mereka ke moda transportasi alternatif.
Dilansir dari Medcom, harga avtur yang sebelumnya berada pada kisaran USD 75 hingga USD 87 per barel kini melambung tinggi ke angka USD 175 hingga USD 200 per barel. Kenaikan drastis ini berdampak langsung pada penurunan permintaan kargo udara secara global sebesar 22 persen.
Penurunan paling signifikan terjadi pada rute penerbangan Asia-Eropa yang mencatatkan kemerosotan permintaan hingga mencapai 39 persen. Situasi tersebut menciptakan fase pasar kargo udara yang lebih mahal dan tidak stabil bagi para pengirim barang di seluruh dunia.
Senior Vice President FIATA sekaligus anggota Dewan Penasihat CILT, Yukki Nugrahawan Hanafi, mengungkapkan bahwa dinamika global ini turut memengaruhi struktur logistik nasional di Indonesia. Saat ini, distribusi domestik masih sangat bergantung pada transportasi darat dengan kontribusi mencapai 90 persen.
Ketergantungan yang tinggi terhadap jalur darat membuat sistem distribusi di Indonesia rentan terhadap tekanan eksternal saat biaya kargo udara meningkat. Sebagian arus barang diprediksi akan bergeser ke jalur laut untuk menekan biaya operasional yang membengkak.
"Pergeseran ini bisa menjadi peluang bagi sektor logistik darat dan laut untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga kelancaran distribusi," kata Yukki Nugrahawan Hanafi, Senior Vice President FIATA. Menurutnya, hal ini harus diiringi dengan peningkatan efisiensi konektivitas antara pelabuhan dan wilayah hinterland.
Pemerintah dan pelaku usaha kini didorong untuk mempercepat pengembangan sistem logistik multimoda yang mengintegrasikan transportasi darat, laut, kereta api, dan udara. Pemanfaatan kereta api logistik, khususnya di Pulau Jawa, dinilai sebagai solusi distribusi yang lebih efisien untuk jenis barang tertentu.
Para penyedia jasa freight forwarder saat ini dituntut bertransformasi menjadi mitra strategis yang menawarkan solusi logistik terintegrasi bagi para shipper. Pelaku usaha juga mulai meningkatkan cadangan stok untuk menghadapi ketidakpastian rantai pasok dalam jangka panjang.