Harga emas Antam mengalami pelemahan tipis sebesar Rp6.000 per gram selama sepekan terakhir. Penurunan ini terpantau dari data grafik harga emas di situs resmi Logam Mulia Antam hingga Minggu (29/3), seperti dilansir dari Detik Finance.
Pada awal pekan, Senin (23/3), harga emas tercatat di level Rp2.843.000 per gram. Namun, memasuki akhir pekan pada Sabtu (28/3), harganya bergeser menjadi Rp2.837.000 per gram.
Meski terjadi pelemahan, Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan bahwa kondisi ini hanya bersifat sementara. Ibrahim meyakini harga emas berpotensi naik dalam waktu dekat, meskipun belum mencapai level Rp3.000.000 per gram.
Dalam analisisnya, Ibrahim memproyeksikan harga emas bisa mencapai puncaknya hingga Rp2.920.000 per gram. Sementara itu, untuk skenario terendah, ia memperkirakan kenaikan bisa mencapai level Rp2.855.000 per gram.
Ibrahim juga menjelaskan bahwa peluang harga logam mulia untuk menyentuh angka Rp3.000.000 per gram tidak akan terjadi dalam minggu depan. “Minggu depan logam mulai menyentuh level Rp3.000.000 tidak akan terjadi. Mungkin terjadi di minggu berikutnya,” ujar Ibrahim.
Apabila terjadi pelemahan lebih lanjut, Ibrahim memperkirakan harga emas maksimal bisa mencapai Rp2.750.000 per gram. Kendati demikian, ia tetap optimis bahwa pelemahan kemungkinan besar akan bertahan di sekitar level Rp2.800.000 per gram.
Banyak faktor yang mendukung potensi kenaikan harga emas, salah satunya adalah masalah pasokan dan permintaan. Ibrahim menyebutkan bahwa bank sentral di berbagai negara saat ini sedang gencar melakukan pembelian emas untuk cadangan mereka.
Kondisi pelemahan harga saat ini justru memberikan keuntungan bagi bank sentral. Dengan modal besar, mereka bisa mengakumulasi cadangan emas lebih banyak. “Tentang supply and demand, bank sentral global masih memupuk dan membeli logam mulia sebagai lindung nilai, saat harga turun ini justru jadi kesempatan buat mereka untuk membeli emas dengan harga relatif murah. Mereka itu paling optimis harga emas bisa naik terus, logam mulia tidak akan jauh pelemahannya, pasti naik lagi,” ungkap Ibrahim.
Selain itu, ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur juga menjadi perhatian investor. Situasi perang yang belum mereda mendorong harga emas terus meningkat karena dianggap sebagai aset safe haven.
“Mau ada masalah perang dagang pun nggak terlalu digembar-gemborkan, masyarakat, investor, itu tertuju pada masalah perang, khususnya Timur Tengah. Pelaku pasar condong melihat konflik itu,” kata Ibrahim.
Bagi masyarakat yang berinvestasi emas, Ibrahim menekankan agar tidak perlu khawatir akan penurunan aset. Ia menegaskan bahwa harga emas sangat mungkin kembali meroket. Target penguatan harga emasnya sendiri, yaitu mencapai Rp4.000.000 per gram, masih belum diubah. “Bagi masyarakat yang investasi emas, jangan takut, masih terus up. Target saya juga belum diturunkan bahwa logam mulai di Rp4.000.000 per gram, tinggal tunggu waktu saja,” pungkas Ibrahim.