Meskipun sempat mencatatkan reli yang signifikan sepanjang tahun lalu, harga emas saat ini justru mengalami koreksi menjelang Lebaran 2026, bertolak belakang dengan ekspektasi banyak pihak.
Antrean pembelian logam mulia yang sempat terlihat di berbagai gerai kini mereda seiring dengan harga emas yang terus menurun, bahkan turun dari level Rp 3 juta per gram.
Ibrahim Assuaibikepada, seorang pengamat komoditas, sebelumnya memprediksi harga emas dapat mencapai Rp 3,2 juta per gram menjelang Lebaran 2026. "Saya melihat sampai Lebaran kemungkinan besar Rp 3,2 juta/gram. Untuk mencapai Rp 3,2 juta/gram sangat mudah sekali karena harga emas dunia ada kemungkinan dalam hitungan hari akan menyentuh US$ 5.100 per troy ounce," kata Ibrahim Assuaibikepada pada Januari lalu.
Pada tahun 2025, harga emas sempat melonjak 64% dan mencatatkan performa terbaik sejak tahun 1979. Logam mulia ini sempat mencapai U$ 5.000 per troy ounce pada bulan Januari.
Namun, pada hari Jumat, harga emas turun di bawah U$ 4.500 per troy ounce, menghapus kenaikan selama dua bulan terakhir. Koreksi harga emas ini merupakan penurunan mingguan terburuk dalam beberapa dekade.
Penurunan harga emas ini terjadi bersamaan dengan gejolak di pasar keuangan global, pelemahan saham dan obligasi di Amerika Serikat, serta lonjakan harga minyak.
Biasanya, konflik geopolitik akan mendorong harga emas naik karena dianggap sebagai aset safe haven. Namun, kali ini investor lebih mengkhawatirkan inflasi dan kebijakan suku bunga bank sentral.
Perang yang melibatkan Iran, seperti yang dilansir CNN pada Minggu (22/3/2026), menyebabkan harga energi meningkat tajam. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap tinggi dan memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Ketidakpastian mengenai durasi konflik juga membuat investor lebih berhati-hati dan menekan pasar saham global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga ikut naik karena investor menjual obligasi dan menyesuaikan ekspektasi inflasi.
Suku bunga yang tinggi umumnya kurang menguntungkan bagi emas karena emas tidak memberikan bunga atau pendapatan seperti obligasi atau deposito. Akibatnya, sebagian investor beralih ke aset yang memberikan imbal hasil.
"Momentum kenaikan telah memudar," kata para ahli strategi di bank Belanda ING dalam sebuah catatan.
"Beberapa investor menjual emas untuk mendapatkan uang tunai atau menyeimbangkan kembali portofolio mereka," lanjutnya.
Harga emas tercatat turun sekitar 2% dalam satu hari dan total penurunannya selama seminggu mencapai lebih dari 10%, menjadikannya kinerja mingguan terburuk sejak awal 1980-an. Harga minyak dunia naik hingga di atas US$ 112 per barel, memperkuat kekhawatiran akan inflasi global.
Analis menilai bahwa pasar keuangan masih berusaha untuk mengukur dampak konflik Timur Tengah terhadap harga minyak, inflasi, dan kebijakan suku bunga ke depan. Volatilitas di pasar emas dan saham diperkirakan akan tetap tinggi selama ketidakpastian ini belum mereda.