Fluktuasi harga minyak global kembali terjadi pada Minggu, dipicu oleh ancaman dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Ia menegaskan akan menyerang fasilitas energi Iran apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka. Kondisi ini menyebabkan minyak Brent naik 1,4% menjadi US$ 110,60 per barel, sementara minyak mentah AS mengalami kenaikan 1,8% menjadi US$ 113,60 per barel.
Ancaman keras tersebut disampaikan Trump melalui unggahannya di Truth Social. "Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya jadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti ini!!! Buka selat itu sekarang juga, kalian orang gila, atau kalian akan hidup dalam neraka – LIHAT SAJA!" tulis Trump, seperti dikutip dari CNN pada Selasa (7/4/2026).
Pernyataan Trump ini langsung mendapat respons dari pejabat senior Iran. Mereka menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai negaranya memperoleh kompensasi penuh atas kerusakan yang diakibatkan oleh perang. Ultimatum dua hari sebelumnya telah diberikan Trump pada 21 Maret, lalu diperpanjang hingga 6 April.
Sikap Trump kali ini cukup kontras dengan pernyataannya pada pekan sebelumnya, di mana ia sempat menyebut bahwa AS tidak memerlukan Selat Hormuz. Sementara itu, negara-negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC+ telah menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap potensi serangan AS ke fasilitas energi. Hal ini dilansir dari Detik Finance.
Dalam keterangan resminya, OPEC+ menekankan bahwa pemulihan permintaan minyak adalah proses yang mahal dan memerlukan waktu panjang. Meski demikian, mereka menyepakati peningkatan produksi sebesar 206.000 barel per hari, yang akan dimulai pada Mei mendatang.
Gangguan pasokan minyak global yang diperparah oleh situasi ini turut mendorong harga bensin rata-rata di AS mencapai level tertinggi sejak tahun 2022. Pada Minggu, harga bensin tercatat US$ 4,11 per galon, yang menurut data AAA, merupakan kenaikan hampir 38% sejak konflik dimulai.