Hilirisasi Nikel Indonesia Tingkatkan Produksi Bahan Baku Baterai EV

Indonesia dorong hilirisasi nikel dari stainless steel ke bahan baku baterai kendaraan listrik, melibatkan teknologi HPAL dan investasi signifikan.

Hilirisasi nikel di Indonesia terus mengalami perkembangan signifikan, terutama dalam merespons peningkatan kebutuhan global akan material baterai untuk kendaraan listrik. Pergeseran fokus industri kini terlihat dari produksi stainless steel menuju bahan baku baterai yang memiliki nilai tambah lebih tinggi, seperti diberitakan oleh Detik Finance.

Meskipun Indonesia memiliki cadangan nikel yang melimpah, pemanfaatannya sebelumnya lebih banyak didominasi oleh produk stainless steel dan ekspor bahan mentah. Perubahan arah industri ini didorong oleh meningkatnya permintaan pasar kendaraan listrik di seluruh dunia.

Salah satu pelaku utama dalam pengembangan pengolahan nikel berbasis teknologi di Indonesia adalah GEM Group (GEM Co., Ltd.) melalui anak perusahaannya, PT QMB New Energy Materials.

Pada periode 2015-2017, sejumlah perusahaan di Morowali sempat menguji coba teknologi hidrometalurgi dengan investasi mencapai ratusan juta dolar AS. Namun, upaya tersebut belum menghasilkan keuntungan yang ekonomis, serupa dengan tantangan biaya tinggi dan profitabilitas yang dihadapi proyek-proyek sejenis secara global.

GEM menyatakan kesanggupannya dalam menekan investasi dan biaya produksi. Perusahaan mengklaim bahwa investasi per 10.000 ton nikel dapat ditekan hingga di bawah USD 200 juta, sementara biaya produksi juga dapat ditekan di bawah USD 10.000 per ton.

Teknologi yang diterapkan memungkinkan pemulihan logam-logam berharga seperti nikel, kobalt, dan mangan. Metode utama yang digunakan adalah High Pressure Acid Leach (HPAL), yang memungkinkan ekstraksi logam dalam satu proses terpadu.

Chairman and Founder GEM Group, Prof. Xu Kai Hua, menjelaskan, "Dulu bijih laterit kadar rendah di Indonesia banyak yang tidak dimanfaatkan. Sekarang kami bisa mengolahnya, sekaligus memulihkan nikel dan kobalt dengan tingkat recovery lebih dari 90%."

Pengembangan ini juga diikuti dengan pembangunan fasilitas terintegrasi, mulai dari tahap pengolahan bijih hingga produksi nikel sulfat dan prekursor baterai. Produk-produk ini menjadi komponen krusial dalam rantai pasok kendaraan listrik global.

Kontribusi Ekonomi dan Pengembangan Riset

Dari sisi kinerja, kawasan industri tempat GEM beroperasi telah mencatat nilai ekspor sekitar USD 2,5 miliar pada periode 2024-2025. Kontribusi pajak yang dihasilkan mencapai USD 400 juta, serta berhasil menyerap lebih dari 10.000 tenaga kerja.

Selain itu, penguatan riset dan pengembangan juga menjadi fokus. GEM telah membangun fasilitas riset bersama di Institut Teknologi Bandung dengan investasi sekitar USD 30 juta. Laboratorium ini dilengkapi dengan lebih dari 300 perangkat mutakhir untuk riset metalurgi hingga material baterai.

Fasilitas ini diharapkan dapat memperkuat keterkaitan antara riset dan industri, sekaligus mendorong pengembangan teknologi pengolahan nikel di dalam negeri. Secara jangka panjang, penguatan teknologi dan sumber daya manusia (SDM) dinilai esensial untuk mengurangi ketergantungan pada pihak asing dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai global.

Recommended