Fenomena cuaca paling ekstrem dalam sejarah Bumi yang dikenal sebagai Carnian Pluvial Event memicu guyuran hujan lebat selama satu hingga dua juta tahun yang dimulai sekitar 232 juta tahun silam. Peristiwa ini mengubah iklim kering menjadi periode basah yang mendominasi planet ini dalam jangka waktu sangat lama.
Kondisi basah tersebut mengakhiri periode kekeringan panjang dan menjadi aturan alam yang pasti pada masa itu. Dilansir dari Detik iNET, fenomena ini dipicu oleh rangkaian letusan gunung berapi dahsyat di wilayah geologis purba Wrangellia Terrane yang kini berada di pesisir Alaska dan British Columbia.
Aktivitas vulkanik masif ini memompa gas rumah kaca seperti karbon dioksida dalam jumlah besar ke atmosfer. "Aktivitas vulkanik di Wrangellia ini terjadi bertepatan dengan periode Carnian tersebut," kata Jacopo Dal Corso, seorang ahli geosains yang mempelajari jejak geokimia letusan tersebut.
Letusan tersebut menyebabkan lonjakan pemanasan global ekstrem dan mengacaukan kadar uap air di stratosfer. Suhu air laut pada masa itu meningkat tajam hingga menyerupai "sup panas" yang menghasilkan kelembapan udara masif sebagai bahan utama badai muson tiada henti di superbenua Pangea.
Dampak dari perubahan iklim ini sangat fatal bagi kehidupan laut purba dengan meningkatnya angka kepunahan massal. Spesies seperti amonoid, konodon, dan krinoid musnah karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi lautan yang drastis akibat pemanasan global tersebut.
Namun, peristiwa ini justru menjadi titik balik bagi perkembangan dinosaurus di daratan. Setelah banyak tanaman dan hewan herbivora kunci musnah, dinosaurus memanfaatkan masa pemulihan Bumi untuk menyebar luas dari Amerika Selatan ke seluruh penjuru benua.
Bukti keberadaan periode hujan jutaan tahun ini pertama kali ditemukan pada 1980-an oleh geolog Inggris Alastair Ruffell dan Michael Simms melalui temuan garis batu abu-abu di antara lapisan batu merah. Jejak dinosaurus yang berlimpah juga ditemukan di atas lapisan lumpur merah di Pegunungan Dolomites, Italia.