IHSG Melemah ke Level 7.200 Akibat Tekanan Rupiah dan Outflow Asing

IHSG terkoreksi 2,41 persen ke level 7.200 pada Jumat (24/4/2026) dipicu pelemahan rupiah dan aksi jual bersih investor asing senilai Rp 1,88 triliun.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren penurunan signifikan dengan terkoreksi sebesar 2,41 persen ke level 7.200,86 pada perdagangan Jumat pagi (24/4/2026) pukul 10.35 WIB. Pergerakan indeks saham domestik ini terpantau tertahan di zona merah sejak pembukaan pasar.

Data RTI Business menunjukkan indeks bahkan sempat menyentuh posisi terendah pada level 7.193,42. Akumulasi pelemahan IHSG selama sepekan terakhir tercatat mencapai 5,82 persen, yang dibarengi dengan aksi jual bersih investor asing (net foreign sell) senilai Rp 1,88 triliun sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengonfirmasi bahwa saat ini IHSG sedang berada dalam fase tren menurun (downtrend). Penurunan ini dipicu oleh depresiasi nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 17.310 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis (23/4) kemarin.

"Posisi pergerakannya masih berada di fase downtrend-nya dan berpeluang menutup gap-gap yang terjadi beberapa waktu lalu. Di sisi lain, kemarin nilai tukar rupiah terhadap USD sudah menyentuh Rp 17.300," kata Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas.

Faktor geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi beban bagi pergerakan indeks meskipun upaya gencatan senjata antara Amerika Serikat-Iran serta Israel-Lebanon masih berjalan. Kondisi tersebut menciptakan sentimen negatif yang mempengaruhi keputusan investor di pasar modal Indonesia.

Herditya menambahkan bahwa risiko fiskal di dalam negeri juga memicu kekhawatiran terkait potensi perubahan peringkat (re-rating) atas outlook ekonomi Indonesia. Hal ini menjadi alasan utama di balik keluarnya dana asing (outflow) dari pasar domestik dalam jumlah besar.

Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menilai dominasi sentimen risk off terjadi akibat ketidakpastian arah suku bunga global dan penguatan dolar AS. Kondisi ini membuat kepercayaan investor belum pulih sepenuhnya untuk kembali masuk ke pasar saham.

Selain faktor eksternal, para pelaku pasar saat ini tengah melakukan penyesuaian portofolio menyusul kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI). Aturan mengenai free float dan high shareholding concentration (HSC) disebut menurunkan daya tarik sejumlah saham tertentu bagi investor jangka menengah.

Recommended