IHSG Dibuka Menguat ke Level 7.147 pada 31 Maret 2026 di Tengah Sentimen Pasar Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan 31 Maret 2026 dengan penguatan 0,79% ke 7.147,52, didorong dominasi saham hijau.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren positif pada pembukaan perdagangan Selasa, 31 Maret 2026. Laju indeks tercatat melonjak setelah bursa resmi dibuka, menembus level penting di tengah sentimen pasar yang beragam.

Dilansir dari Medcom, data Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 09.02 WIB menunjukkan IHSG melesat 55,85 poin atau setara 0,79 persen. Posisi indeks saat ini berada pada level 7.147,52. IHSG memulai sesi di level 7.122,99, angka yang lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya di 7.091,67.

Rentang pergerakan indeks terpantau berada di antara 7.122,22 hingga 7.155,55 pada awal sesi perdagangan. Aktivitas di lantai bursa terlihat cukup dinamis dengan volume saham mencapai 1,728 miliar lembar, dan nilai transaksi menyentuh angka sekitar Rp902,2 triliun. Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 9.388.000 kali transaksi, sementara total nilai kapitalisasi pasar berada di kisaran angka Rp12.593 triliun.

Penguatan indeks didorong oleh dominasi saham yang bergerak di zona hijau. Tercatat sebanyak 349 saham menguat, 132 saham mengalami koreksi, sementara 477 saham lainnya tidak bergerak. Penguatan IHSG ini sejalan dengan pergerakan mayoritas indeks saham utama lainnya.

Indeks LQ45 tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,75 persen menuju level 722,87 pada awal sesi. Sektor syariah juga menunjukkan performa serupa dengan Jakarta Islamic Index (JII) yang menguat 0,80 persen ke posisi 483,26. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) turut naik 0,74 persen menjadi 254,22.

Selain itu, indeks KOMPAS100 mencatatkan pertumbuhan 0,86 persen ke level 985,20. Indeks IDX30 juga tidak ketinggalan dengan penguatan sebesar 0,82 persen yang membawanya ke level 391,83.

Sinyal Pemulihan Teknis dan Risiko Geopolitik

Secara teknikal, IHSG menunjukkan sinyal pemulihan setelah berhasil rebound dari area support kuat di kisaran 6.950-7.000, sebagaimana dijelaskan BRI Danareksa Sekuritas. Pergerakan ini mengindikasikan terbentuknya pola double bottom sekaligus awal fase stabilisasi jangka pendek. Kemampuan indeks bertahan di atas level psikologis 7.000 menjadi indikator penting bagi arah pergerakan selanjutnya, dengan peluang penguatan terbuka selama mampu mempertahankan posisi tersebut.

Adapun target resistance berada di kisaran 7.150 hingga 7.300. Jika mampu menembus level tersebut, potensi kenaikan lanjutan bisa semakin terbuka. Namun, pasar masih akan mencermati perkembangan konflik Iran yang telah memasuki minggu kelima, termasuk keterlibatan Houthi dan tambahan pasukan AS, serta rilis data domestik seperti inflasi dan neraca perdagangan. Tekanan pasar sebelumnya tercermin dari aksi jual bersih (net foreign sell) investor asing yang mencapai sekitar Rp678 miliar di pasar reguler.

Kekhawatiran Status Investasi Indonesia dari MSCI

Di sisi lain, pasar keuangan domestik sempat diguncang oleh pengumuman lembaga pengelola indeks global MSCI terkait investabilitas Indonesia di awal 2026, yang memicu kekhawatiran arus keluar dana asing dalam jumlah besar. Dalam laporan Global Investment Strategy – Maret 2026, JP Morgan menyebutkan IHSG sempat mengalami penurunan hingga sekitar 23 persen dari level tertinggi sepanjang masa hingga 30 Maret 2026.

Penurunan ini seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan status pasar Indonesia ke frontier market, dengan perkiraan arus keluar dana dapat mencapai lebih dari USD10 miliar (Rp169,5 triliun). Tekanan terbesar diperkirakan terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Menyikapi hal ini, pemerintah dan regulator pasar modal Indonesia meluncurkan paket reformasi agresif untuk meningkatkan kepercayaan investor. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menaikkan batas minimal kepemilikan publik (free float) serta memperketat persyaratan IPO. Bursa Efek Indonesia (BEI) juga akan mempublikasikan daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi guna mencegah manipulasi pasar. Investor saat ini menantikan pengumuman indeks MSCI pada Mei mendatang.

Recommended