PT Mega Capital Sekuritas, bagian dari CT Corpora, telah hadir sejak tahun 1991 dengan menawarkan layanan investasi yang inovatif serta didukung oleh tenaga ahli yang terpercaya.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pada hari Rabu (4/3) di zona merah dengan penurunan sebesar 4,57%, mencapai level 7.577,06. Pelemahan ini terjadi secara merata di seluruh sektor, dengan seluruh 11 sektor mengalami koreksi. Sektor Basic Industry mencatat penurunan terdalam, yakni sebesar 7,42%.
Di antara saham-saham, SGRO mengalami penguatan sebesar 7,81%, IFSH melonjak 25,00%, dan POLU naik 9,68%. Sebaliknya, TLKM mengalami penurunan sebesar 7,25%, AMMN melemah 10,62%, dan BRMS terkoreksi 13,27%. Tercatat investor asing melakukan penjualan bersih sebesar Rp213,98 miliar di pasar reguler dan Rp117,91 miliar di seluruh pasar.
Berbanding terbalik dengan pasar domestik, bursa Amerika Serikat ditutup menguat. Dow Jones naik 0,49% ke 48.739, S&P 500 bertambah 0,78% ke 6.869, dan Nasdaq menguat 1,29% ke 22.807.
Kekhawatiran pasar global mengenai dampak perang Iran mulai mereda. Namun, ETF EIDO dan MSCI Indonesia masih mengalami koreksi masing-masing sebesar 1,63% dan 4,28%, seiring dengan revisi outlook negatif dari Fitch terhadap Indonesia.
Berita Emiten
1. Bayan Resources (BYAN)
BYAN mengumumkan rencana belanja modal (capex) sebesar US$200–300 juta pada tahun 2026, yang setara dengan Rp3,38–5,07 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.916 per dolar AS). Anggaran ini lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi tahun 2025 yang mencapai US$181,7 juta.
Manajemen BYAN menargetkan pendapatan di kisaran US$1,8–3,8 miliar pada tahun 2026. Produksi batu bara diproyeksikan berada di rentang 39–76 juta ton, dengan target penjualan 39–78 juta ton. Perseroan memperkirakan average selling price (ASP) sebesar US$46–48 per ton, cash cost produksi US$36–42 per ton, serta stripping ratio 4,8–5,2 kali.
Sepanjang tahun 2025, BYAN mencatat ASP sebesar US$48,4 per ton, mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2024 yang sebesar US$61,3 per ton. Meskipun harga rata-rata mengalami pelemahan, volume penjualan meningkat 25,97% secara tahunan menjadi 70,8 juta ton dan produksi meningkat 19,5% menjadi 68 juta ton.
2. Bank Negara Indonesia (BBNI)
BBNI menyiapkan dana maksimal Rp905,48 miliar untuk aksi pembelian kembali saham (buyback). Jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 10% dari modal yang ditempatkan dan disetor. Sumber dana berasal dari free cash flow, yaitu saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya.
Rencana tersebut akan diajukan untuk mendapatkan persetujuan dalam RUPST pada tanggal 9 Maret, mengacu pada POJK No. 29/2023. Apabila disetujui, periode buyback akan berlangsung selama 12 bulan, mulai dari tanggal 9 Maret 2026 hingga 8 Maret 2027. Secara proforma, total aset diperkirakan menjadi Rp1.361 triliun dari sebelumnya Rp1.362 triliun, sedangkan laba bersih per saham meningkat Rp3 menjadi Rp540.
Disclaimer: Analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif, bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor, sesuai profil risiko dan tujuan keuangan pribadi.