Nilai impor Indonesia menembus US$ 42,09 miliar sepanjang Januari hingga Februari 2026. Angka tersebut mencerminkan peningkatan sebesar 14,44% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sebagaimana dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Peningkatan ini didominasi oleh sektor nonmigas, sementara impor migas menunjukkan penurunan. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa impor migas mencapai US$ 5,16 miliar, mengalami penurunan 3,50%.
Di sisi lain, impor nonmigas tercatat senilai US$ 36,93 miliar, melonjak 17,49%. Peningkatan impor ini terjadi pada seluruh golongan penggunaan, seperti diungkapkan Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4/2026), dilansir dari Detik Finance.
Bahan baku penolong menjadi kontributor utama kenaikan impor, mencapai US$ 29,40 miliar. Jumlah ini naik 9,27% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan andil peningkatan sebesar 6,78%.
Beberapa komoditas bahan baku penolong yang mengalami kenaikan signifikan meliputi logam mulia, perhiasan atau permata, mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagian-bagiannya, serta produk kimia.
Dari segi negara asal, impor Indonesia mengalami peningkatan terutama dari Tiongkok, Australia, Singapura, dan negara-negara Uni Eropa. Sebaliknya, impor dari kawasan ASEAN justru tercatat menurun.
Secara khusus pada Februari 2026, total nilai impor mencapai US$ 20,89 miliar. Angka ini menunjukkan kenaikan 10,85% dibandingkan Februari 2025.
Impor migas pada bulan tersebut tercatat US$ 2 miliar, turun 30,36% secara tahunan. Sementara itu, impor nonmigas senilai US$ 18,90 miliar, meningkat 18,24% dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Ateng, pendorong utama kenaikan nilai impor secara tahunan berasal dari peningkatan impor nonmigas, dengan kontribusi sebesar 15,47%.