BPS Catat Impor Logam Mulia dari Australia Melonjak 469 Persen

BPS melaporkan nilai impor logam mulia dan perhiasan dari Australia mencapai US$ 1,19 miliar pada kuartal I 2026 atau naik sebesar 469,05 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya lonjakan signifikan pada impor komoditas logam mulia dan perhiasan atau permata dari Australia ke Indonesia pada Senin (4/5/2026). Nilai impor tersebut melesat hingga 469,05 persen di tengah tren penurunan harga emas global.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa nilai impor logam mulia dari Australia menyentuh angka US$ 1,19 miliar selama periode Januari hingga Maret 2026. Angka ini setara dengan pangsa pasar sebesar 37,92 persen dari total impor komoditas serupa.

"Impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Australia tumbuh relatif tinggi yaitu sampai mencapai 469,05% secara c-to-c," kata Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026).

Dilansir dari Detik Finance, logam mulia menjadi penyumbang terbesar dalam struktur impor nonmigas dari Australia yang secara keseluruhan bernilai US$ 3,14 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Sektor lain seperti serealia mencatat nilai US$ 394,55 juta, sementara bahan bakar mineral justru turun menjadi US$ 301,22 juta.

Ateng menjelaskan bahwa dominasi logam mulia dalam struktur perdagangan kedua negara sangat menonjol. Hal ini terlihat dari porsi 37,92 persen yang disumbangkan oleh satu jenis komoditas tersebut terhadap total nilai impor nonmigas dari Negeri Kanguru.

Tren peningkatan impor perhiasan ini tidak hanya bersumber dari Australia. Data BPS menunjukkan Indonesia juga mendatangkan komoditas serupa dari Singapura dengan nilai mencapai US$ 323,43 juta pada Januari-Februari 2026, atau tumbuh sebesar 196,50 persen.

Recommended