Impor Pakaian dan Aksesori Naik Jelang Ramadan 2026

Impor pakaian dan aksesori rajutan naik 13,33% pada Januari 2026, mencapai US$ 11,5 juta, dipicu persiapan Ramadan.

Impor pakaian dan aksesoris mengalami peningkatan pada Januari 2026, bertepatan dengan momentum menjelang Ramadan dan Lebaran Idul Fitri. Momen ini seringkali memicu peningkatan pembelian baju baru di kalangan masyarakat.

Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, impor komoditas pakaian dan aksesoris rajutan atau disebut HS61 mengalami kenaikan sebesar 13,33% secara tahunan (year on year) pada Januari 2026. Nilainya tercatat mencapai US$ 11,5 juta atau setara dengan Rp 193,2 miliar (dengan kurs Rp 16.800).

"Perkembangan impor pakaian jadi di Januari 2026, ini pakaian dan aksesorisnya atau yang kami sebut istilah rajutan atau HS61 mencapai US$ 11,5 juta atau naik 13,33% secara year on year," kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Pakaian dan aksesoris rajutan (HS61) sendiri meliputi berbagai jenis produk garmen rajutan atau kaitan, seperti T-shirt, jersey, kardigan, pakaian bayi, serta sarung tangan dan kaus kaki.

Namun, untuk kelompok pakaian dan aksesoris bukan rajutan, terjadi penurunan nilai impor sebesar 13,11% (yoy) pada Januari 2026. Nilainya tercatat sebesar US$ 10,7 juta atau setara dengan Rp 179,76 miliar.

Pakaian dan aksesoris bukan rajutan (HS62) mencakup berbagai produk tekstil tenun, seperti kemeja, celana, rok, jas, dan berbagai aksesori pakaian lainnya.

"Pakaian dan aksesorisnya bukan rajutan atau HS62 itu nilainya US$ 10,7 juta, turun 13,11% secara year on year atau Januari tahun 2026 dibandingkan dengan Januari tahun 2025," tutur Ateng.

Recommended