Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) memastikan tidak ada laporan pemutusan hubungan kerja (PHK) di kalangan anggotanya hingga Selasa (5/5/2026). Penegasan ini muncul di tengah peringatan serikat pekerja mengenai ancaman efisiensi imbas pelemahan rupiah dan kenaikan harga bahan baku impor.
Dilansir dari Detik Finance, Ketua Inaplas Suhat Miyarso menyatakan bahwa sejauh ini belum ada satu pun anggota asosiasi yang melaporkan kejadian PHK massal. Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) di Gatot Subroto untuk merespons isu miring di sektor petrokimia.
"Mengenai PHK, ya tadi saya sampaikan bahwa sampai dengan hari ini tidak ada satu pun anggota Inaplas yang melaporkan kejadian PHK," kata Suhat Miyarso, Ketua Inaplas. Pihaknya juga menegaskan belum memberikan laporan terkait pengurangan tenaga kerja kepada pemerintah.
Klaim pengusaha tersebut berbanding terbalik dengan kekhawatiran yang disampaikan Presiden Partai Buruh sekaligus Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal. Pada Kamis (7/5/2026), Said memperingatkan potensi pemangkasan pekerja dalam tiga bulan ke depan akibat tekanan konflik di Timur Tengah.
Said Iqbal mengungkapkan pihaknya telah menerima informasi mengenai sinyal efisiensi dari 10 perusahaan di sektor tekstil, garmen, komponen elektronik, hingga plastik. Menurut pantauan buruh di lapangan, perusahaan di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, dan DKI Jakarta berisiko tutup akibat tingginya biaya energi.
Tekanan di industri plastik disebut terjadi karena ketergantungan pada polimer dan bahan baku impor yang dibeli menggunakan dolar AS. Saat nilai tukar rupiah melemah, beban biaya produksi meningkat tajam sementara hasil produksi dijual di pasar domestik menggunakan mata uang rupiah.
Wakil Ketua Umum Inaplas, Edi Rivai, menambahkan bahwa industri petrokimia dan pengolahan plastik saat ini masih memiliki basis pelanggan yang stabil. Ia menegaskan tidak ada rencana PHK dalam proyeksi bisnis ke depan meskipun kondisi global sedang tidak menentu.