Indonesia berpotensi terlibat dalam misi pengamatan ke Bulan, yang biasanya dilakukan oleh negara maju. Emanuel Sungging, Kepala Pusat Riset Antariksa, Badan Riset dan Inovasi Nasional, menjelaskan alasan di balik potensi ini.
Pengamatan astronomi yang umumnya dilakukan di permukaan bumi dengan kamera yang menghadap langit, kini berpeluang dilakukan langsung dari Bulan. Ini membuka kesempatan kolaborasi bagi Indonesia dalam misi-misi ke Bulan.
Emanuel Sungging menjelaskan keunggulan pengamatan astronomi dari Bulan. "Ketika kita ingin mengamati gelombang radio alam semesta ini dan melakukannya dari ground base di bumi, maka akan memiliki banyak gangguan intervensi gelombang radio yang lain. Sedangkan jika pengamatan ditempatkan di bulan, intervensi gelombang radio dari bumi akan terhalang olehnya," tuturnya.
Bulan memiliki daerah gelap permanen di bawah kawah dengan suhu rendah, sehingga kamera pengamatan tidak memerlukan pendingin. Permukaan bulan yang stabil dan minim pergerakan memungkinkan pembuatan Very Long Baseline Interferometer (VLBI) karena kamera tidak perlu sering dikoreksi seperti di Bumi. Atmosfer bulan yang tipis juga membuat cahaya bintang terlihat lebih jelas.
Chatief Kunjaya dari Kelompok Keilmuan Astronomi FMIPA ITB, yang juga menjabat sebagai Board of Director dari Internasional Lunar Observatory Association (ILOA), menyampaikan keberhasilan proyek ILO-X yang mendarat di Bulan menggunakan pesawat Nova-C.
"ILO-X terbukti sukses karena telah bisa mendarat di Bulan. Kedua, proyek ini bisa mengkomunikasikan hasil dari foto pengamatannya, sayangnya ketika mendarat di bulan salah satu kaki pesawat menabrak batu dan membuat ia tumbang sehingga kamera mengamati dalam posisi miring dari bawah dan kurang optimal," ucapnya.
ILO-X merupakan percobaan menuju proyek aslinya, yaitu ILO-1 dan ILO-2. Kunjaya menjelaskan bahwa penggunaan kamera pada proyek-proyek ini masih statis, sehingga pengambilan gambar bergantung pada pergerakan pesawat pembawa kamera. Oleh karena itu, dibutuhkan kamera yang dapat bergerak otomatis untuk mengoptimalkan pengambilan gambar.
Peluang Indonesia dalam Misi Internasional
Kunjaya menambahkan potensi partisipasi Indonesia dalam misi-misi internasional luar angkasa melalui program ILOA. Ini membuka kesempatan bagi Indonesia untuk eksplorasi angkasa lebih lanjut dan membuat kamera yang lebih baik untuk ILO-2. Kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan.
Kunjaya menegaskan pentingnya persiapan, terutama dalam capacity building, karena Indonesia berpotensi berpartisipasi dalam misi observatorium astronomi di Bulan.