Gejolak harga bahan baku kemasan plastik yang berbasis minyak bumi kini dilaporkan telah meroket hingga 100%. Situasi ini, yang menurut Asosiasi Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (AMDATARA) dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026, berpotensi mengancam kelangsungan ribuan usaha serta puluhan ribu lapangan kerja di sektor air minum dalam kemasan (AMDK), seperti dilansir dari Detik Finance.
Kenaikan drastis ini juga berisiko mengganggu akses masyarakat terhadap air minum aman, yang selama ini menjadi kontribusi signifikan industri AMDK bagi kesehatan publik. Ketua Umum AMDATARA, Karyanto Wibowo, mengungkapkan keprihatinan serius asosiasi terhadap tekanan berat yang dialami industri ini.
Karyanto menuturkan bahwa eskalasi konflik geopolitik telah menyebabkan harga minyak mentah global melonjak tajam, dari sekitar US$67 per barel menjadi US$98 per barel pada pertengahan Maret 2026. Bersamaan dengan itu, harga gas alam acuan di Asia dan Eropa juga tercatat melesat lebih dari 60% dalam periode yang sama. Menurutnya, karena lebih dari 99% plastik diproduksi dari bahan bakar fosil, lonjakan harga energi ini secara langsung berdampak pada biaya produksi dan bahan baku plastik.
Pihaknya memperkirakan lonjakan harga bahan baku hingga 100% ini dapat mendorong kenaikan harga kemasan jadi sekitar 25-50%. Dampaknya akan bervariasi, tergantung pada jenis material, volume produksi, dan skala usaha masing-masing perusahaan. Karyanto mengingatkan, jika kondisi ini terus berlanjut, harga jual produk AMDK di pasar berisiko mengalami peningkatan, terutama bagi produsen kecil dan menengah yang memiliki stok terbatas dan likuiditas rendah.
Karyanto menambahkan bahwa ancaman ini tidak hanya menargetkan keberlanjutan ribuan usaha dan puluhan ribu lapangan kerja, tetapi juga bisa mengganggu ketersediaan air minum aman bagi masyarakat, yang selama ini menjadi peranan penting industri AMDK dalam kesehatan publik.
Berdasarkan laporan anggota asosiasi di berbagai daerah, kenaikan harga bahan baku kemasan untuk beberapa jenis material telah mencapai 100% dalam waktu yang relatif singkat. Karyanto menekankan bahwa kenaikan dua kali lipat ini bukan lagi fluktuasi biasa, melainkan tekanan struktural yang memukul daya tahan industri, terutama saat pelaku usaha berupaya keras menjaga keterjangkauan harga produk di tengah masyarakat.
Saat ini, industri AMDK di Indonesia terdiri dari 707 pabrik dengan kapasitas produksi terpasang mencapai 47 miliar liter per tahun, serta menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung. Industri ini juga mendukung jutaan pekerja di sepanjang rantai pasok distribusi dan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia sebagai bagian dari subsektor makanan dan minuman. Industri AMDK juga berperan strategis dalam menyediakan akses air minum yang aman, higienis, dan berkualitas, membantu mengurangi risiko penyakit yang ditularkan melalui air tidak bersih.
Oleh karena itu, AMDATARA berharap pemerintah dapat berperan aktif sebagai penyangga bagi industri strategis ini melalui langkah-langkah konkret. Mereka meminta relaksasi kebijakan sebesar 20-30% pada komponen biaya terkait bahan baku dan energi. Usulan tersebut meliputi penurunan sementara PPN kemasan dari 11% menjadi 8%, relaksasi Bea Masuk Anti Dumping (BMAD), serta stimulus pajak penghasilan khusus untuk UMKM di sektor AMDK.
Karyanto menegaskan, "Insentif yang kami minta ini bukanlah privilese, melainkan penopang agar industri tetap dapat berjalan, tenaga kerja terlindungi, pasokan produk ke masyarakat tetap terjaga, dan stabilitas ekonomi nasional tidak terganggu."