Visi Indonesia untuk menjadi negara maju pada tahun 2045 tidak hanya ditopang oleh investasi dan pembangunan fasilitas pengolahan. Kesiapan sumber daya manusia (SDM) juga memegang peranan krusial, terutama dengan adanya percepatan program hilirisasi nikel yang membutuhkan banyak insinyur dan tenaga ahli.
Hilirisasi ditetapkan pemerintah sebagai strategi vital guna meningkatkan nilai tambah, volume ekspor, serta daya saing sektor industri. Namun, pengembangan SDM dinilai masih belum sejalan dengan laju pesat pembangunan fasilitas pengolahan. Padahal, kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki keahlian dalam teknologi proses seperti High Pressure Acid Leach (HPAL), rekayasa material, dan pengolahan logam terus meningkat.
Menyikapi tantangan ini, berbagai program mulai diluncurkan untuk memenuhi kekurangan SDM. Salah satunya adalah upaya pengembangan talenta teknik, di mana mahasiswa Indonesia mendapatkan kesempatan untuk mendalami metalurgi, pertambangan, dan material energi baru.
Sebanyak 266 mahasiswa Indonesia terlibat dalam program pendidikan ini, yang merupakan kolaborasi pemerintah dengan GEM Co., Ltd dan Central South University (CSU) di Tiongkok. GEM sendiri dikenal sebagai perusahaan global yang bergerak di bidang daur ulang material dan rantai pasok baterai, termasuk pengolahan nikel untuk komponen kendaraan listrik.
Fokus program ini mencakup metalurgi nikel, rekayasa material baterai, teknologi pemrosesan mineral, serta manajemen rantai pasok energi baru. Dalam jangka panjang, program ini memiliki target ambisius untuk mencetak 100 doktor teknik, 1.000 magister teknik, dan 10.000 tenaga teknis yang akan mendukung penuh proses industrialisasi di tanah air.
Kebutuhan SDM yang terampil ini selaras dengan target Indonesia Emas 2045, di mana Indonesia bercita-cita menjadi negara maju dan masuk dalam lima besar kekuatan ekonomi dunia. Pencapaian target tersebut memerlukan ketersediaan tenaga kerja yang sesuai dengan tuntutan industri berbasis teknologi.
Di sektor nikel, tantangan terkait SDM sangat terasa. Berdasarkan data dari USGS 2026, Indonesia memegang sekitar 44% cadangan nikel dunia, menempatkan negara ini sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik. Oleh karena itu, penguatan insinyur lokal menjadi sangat penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pusat pengolahan, tetapi juga mampu meningkatkan kapabilitas ke industri berbasis teknologi yang lebih maju.
Beberapa alumni program ini telah mulai berkarya di berbagai industri, termasuk di Morowali. Salah satunya adalah Evan Wahyu Kristiyanto, yang kini menjabat sebagai Wakil Manajer di departemen HPAL skala industri. Keberhasilan hilirisasi dalam jangka panjang sangat bergantung pada transfer teknologi yang efektif di dalam negeri, demikian dilansir dari Detik Finance.
Fahmy Radhi, Ekonom Energi UGM, turut menyoroti pentingnya asimilasi teknologi. Menurutnya, asimilasi teknologi merupakan kunci agar hilirisasi dapat memberikan dampak signifikan pada industrialisasi nasional. Peningkatan nilai ekspor produk hilirisasi nikel dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi secara drastis dibandingkan sebelum adanya larangan ekspor bijih mentah. Tantangan selanjutnya adalah memastikan peningkatan ini juga diiringi oleh peningkatan kualitas SDM nasional.
Investasi berkelanjutan dalam pendidikan teknik dan pengembangan talenta industri dianggap sebagai fondasi penting untuk merealisasikan target Indonesia Emas 2045.