Pemerintah Indonesia resmi menambah volume impor minyak mentah dan LPG dari Amerika Serikat (AS) pada Jumat (24/4/2026) sebagai tindak lanjut kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART). Langkah strategis ini bertujuan untuk mengamankan pasokan energi nasional hingga akhir tahun.
Dilansir dari Detik Finance, kesepakatan dagang tersebut ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump pada awal tahun 2026. Nilai impor migas dari Negeri Paman Sam ini diproyeksikan mencapai US$ 15 miliar atau setara Rp 253,32 triliun.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot mengonfirmasi bahwa PT Pertamina (Persero) telah mendapatkan penugasan resmi untuk mengeksekusi pembelian tersebut. Saat ini, tim dari Pertamina dilaporkan sudah berada di AS guna melakukan negosiasi bisnis lebih lanjut.
"Tim dari Pertamina kan juga lagi ada di Amerika sekarang. Jadi perusahaan-perusahaan mana yang bisa mensuplai kita dalam waktu cepat dan juga bagaimana pengiriman, ya kita harapkan itu berbagai sumber untuk kebutuhan crude kita," kata Yuliot, Wakil Menteri ESDM.
Sebelum adanya perjanjian ART, Indonesia sejatinya telah mengimpor LPG dari Amerika Serikat dengan volume mencapai 60 persen dari total impor nasional yang sebesar 7 juta ton. Perjanjian baru ini akan meningkatkan angka tersebut secara signifikan guna memenuhi komitmen tarif resiprokal.
Selain pasokan dari Amerika Serikat, Indonesia juga tetap menjalankan rencana impor minyak sebanyak 150 juta barel dari Rusia hingga akhir tahun 2026. Diversifikasi sumber pasokan dilakukan agar pemenuhan kebutuhan energi di dalam negeri tetap terjaga di tengah dinamika pasar global.
Saat ini, tim teknis Pertamina sedang mendetailkan sumber-sumber tambahan untuk minyak mentah tersebut. Fokus utama pemerintah adalah memastikan pengiriman dapat dilakukan dalam waktu singkat untuk menjaga stok nasional.