Investor Desak Nintendo Naikkan Harga Switch 2 Akibat Saham Anjlok

Investor mendesak Nintendo menaikkan harga Switch 2 setelah saham perusahaan turun 30 persen akibat margin kerugian dan biaya komponen.

Sejumlah pemegang saham Nintendo mendesak perusahaan untuk segera menaikkan harga retail konsol Switch 2 guna mengatasi kerugian margin perangkat keras pada Jumat (8/5/2026). Langkah ini dipicu oleh tren penurunan harga saham perusahaan asal Jepang tersebut yang telah merosot hingga 30 persen sepanjang tahun berjalan.

Dilansir dari Detik iNET melalui laporan Bloomberg, nilai saham Nintendo terpantau anjlok dari angka USD 68,15 pada awal tahun menjadi USD 47,38. Penurunan ini terus terjadi meskipun perusahaan sempat mengalami penguatan singkat saat peluncuran gim Pokémon Pokopia pada Maret lalu.

Para investor kini menyoroti harga jual Switch 2 yang dipatok sebesar USD 449,99 untuk pasar global sejak rilis Juni 2025. Di pasar domestik Jepang, perangkat tersebut bahkan dibanderol lebih murah dengan harga setara USD 318, yang memicu kekhawatiran terkait besarnya subsidi biaya produksi.

Data internal menunjukkan Nintendo sebenarnya telah menjual 17,37 juta unit konsol dan 37,93 juta kopi gim hingga akhir Desember lalu. Kendati laba kuartalan melonjak 23 persen, margin keuntungan dari perangkat keras tetap tertekan akibat melambungnya harga komponen semikonduktor dan memori.

Strategi menjual perangkat di bawah biaya produksi merupakan perubahan arah dari kebijakan generasi Switch pertama yang mengambil margin keuntungan murni. Seorang analis menyebut bahwa kenaikan harga sebesar USD 50 hingga USD 100 hanya akan sedikit meringankan beban tanpa memberikan laba signifikan dari sisi perangkat keras.

"Harga akan dipertahankan selama perusahaan tidak harus berhadapan dengan tekanan inflasi akibat kenaikan tarif pajak atau biaya komponen," ujar Shuntaro Furukawa, Presiden Nintendo, pada November 2025 terkait komitmen harga untuk tahun 2026.

Namun, janji tersebut kini terancam oleh lonjakan biaya bahan baku dasar yang disebabkan oleh tren kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini memaksa manajemen Nintendo untuk mempertimbangkan kembali kebijakan harga demi menjaga kepercayaan investor di pasar modal global.

Recommended