Iran Diduga Targetkan Radar Pertahanan Udara AS di Timur Tengah

Citra satelit menunjukkan dugaan upaya Iran melemahkan sistem pertahanan udara AS (THAAD) dengan menyerang radarnya di Semenanjung Arab.

Upaya Iran untuk merusak sistem pertahanan udara Amerika Serikat, khususnya THAAD, tampak dari citra satelit terbaru yang memperlihatkan kerusakan pada sejumlah pangkalan militer di Semenanjung Arab. Serangan ini diduga menargetkan radar yang merupakan komponen penting dalam mendeteksi rudal dan drone.

Citra satelit menunjukkan bahwa sistem radar untuk baterai rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) milik AS di Yordania diserang dan tampak hancur pada hari-hari pertama serangan AS-Israel terhadap Iran.

Menurut analisis CNN, bangunan yang menampung sistem radar serupa juga terkena serangan di dua lokasi di Uni Emirat Arab. Meski demikian, belum ada konfirmasi mengenai tingkat kerusakan peralatan di sana.

Radar AN/TPY-2, yang diproduksi oleh Raytheon dengan biaya hampir setengah miliar dolar, berfungsi sebagai elemen krusial dalam sistem pencegat rudal canggih. Sistem ini digunakan untuk mengidentifikasi dan menghancurkan rudal balistik yang menuju target. Saat ini, AS mengoperasikan delapan baterai THAAD, sementara Uni Emirat Arab memiliki dua, dan Arab Saudi satu.

Radar yang menjadi target serangan berlokasi di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania, sekitar 800 kilometer dari Iran. Citra satelit menunjukkan dua kawah berdiameter sekitar 4 meter di dekat radar tersebut. Ini menandakan bahwa diperlukan beberapa kali serangan untuk menghancurkan unit yang terdiri dari lima trailer sepanjang sekitar 12 meter. Semua unit tampak hancur atau rusak berat.

THAAD ditempatkan di Muwaffaq sejak setidaknya pertengahan Februari dan diduga diserang pada 1 atau 2 Maret. Pangkalan itu menjadi pusat aktivitas militer AS. Citra satelit sebelum konflik menunjukkan lebih dari 50 jet tempur di landasan, bersama drone dan pesawat angkut. Puluhan hanggar mungkin juga menyimpan pesawat yang tersembunyi dari satelit.

Selain di Yordania, instalasi militer dekat Ruwais dan Sader di UEA juga mengalami kerusakan antara 28 Februari dan 1 Maret. CNN menyimpulkan bahwa kedua lokasi tersebut menampung baterai dan radar THAAD berdasarkan analisis citra satelit.

Meskipun kerusakan radar dapat mengurangi kemampuan sistem THAAD, ahli berpendapat bahwa sistem tersebut tidak sepenuhnya lumpuh karena masih ada aset dan konfigurasi lain yang dapat digunakan.

N.R. Jenzen-Jones, spesialis amunisi di Armament Research Services (ARES), menekankan bahwa radar tersebut tidak mudah diganti dan merupakan kerugian besar. "Radar AN/TPY-2 pada dasarnya adalah jantung dari baterai THAAD, yang memungkinkan peluncuran rudal pencegat serta berkontribusi pada jaringan pertahanan udara terpadu," ujarnya.

Jenzen-Jones menambahkan, "Selain itu, peralatan ini sangat mahal. Kehilangan bahkan satu radar saja sudah menjadi peristiwa signifikan secara operasional. Kemungkinan besar unit pengganti harus dipindahkan dari lokasi lain, yang tentu butuh waktu dan upaya."

Menurut Jenzen, THAAD dapat melindungi area yang luas. "Namun sistem ini juga harus dilapisi sistem pertahanan udara lain seperti Patriot untuk memastikan perlindungan yang baik terhadap berbagai jenis ancaman serta perlindungan tambahan bagi baterai itu sendiri," tambahnya.

Serangan Iran terhadap pangkalan dan fasilitas militer AS di Semenanjung Arab tampaknya menargetkan peralatan komunikasi, radar, dan intelijen untuk memutus koneksi dari dunia luar. Citra satelit juga menunjukkan kerusakan sistem radar peringatan dini milik Qatar yang dibuat di AS.

Juru bicara Pentagon menolak memberikan komentar rinci terkait insiden ini. "Demi keamanan operasional, kami tidak akan mengomentari status kemampuan spesifik di kawasan ini," sebut jubir Pentagon.

Recommended