Penutupan Selat Hormuz oleh Iran berdampak signifikan pada rantai pasokan energi global. Beberapa perusahaan minyak dan pemilik kapal tanker dilaporkan menangguhkan pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG).
Seorang eksekutif senior di sebuah perusahaan perdagangan besar menyatakan, "Kapal-kapal kami akan tetap di tempat selama beberapa hari," seperti dikutip dari independent.co.uk, Minggu (1/3/2026).
Citra satelit menunjukkan penumpukan kapal di dekat pelabuhan-pelabuhan besar, termasuk Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA), karena tidak dapat melintasi Selat Hormuz.
Menurut seorang pejabat dari misi angkatan laut Uni Eropa Aspides kepada Reuters, kapal-kapal di wilayah tersebut menerima transmisi VHF dari Garda Revolusi Iran yang menyatakan bahwa "tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz".
Angkatan Laut Inggris menegaskan bahwa perintah Iran tersebut tidak mengikat secara hukum, namun menyarankan kapal-kapal untuk melintas dengan hati-hati.
Asosiasi kapal tanker INTERTANKO menyatakan bahwa Angkatan Laut AS telah mengeluarkan peringatan untuk tidak berlayar di seluruh Teluk Persia, Teluk Oman, Laut Arab Utara, dan Selat Hormuz, karena tidak dapat menjamin keselamatan pelayaran.
Kementerian pelayaran Yunani juga mengeluarkan saran serupa, meminta kapal-kapal untuk menghindari Teluk Persia, Teluk Oman, dan Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi sekitar 20% pasokan minyak global dari produsen utama seperti Arab Saudi, UEA, Irak, Kuwait, dan Iran, serta volume besar LNG dari Qatar.