Iran Klaim Sukses Uji Coba Rudal Hipersonik Fattah-2

Iran mengklaim rudal hipersonik Fattah-2 berhasil menembus pertahanan udara Israel dalam uji coba Operation True Promise 4.

Iran kembali menjadi perhatian dunia militer setelah mengklaim penggunaan rudal hipersonik Fattah-2 dalam operasi Operation True Promise 4 pada Maret 2026. Rudal ini diklaim mampu menembus sistem pertahanan udara Israel, termasuk Iron Dome, Arrow, dan Patriot.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merilis video peluncuran rudal sebagai bagian dari serangan balasan terhadap Israel dan basis militer AS. Teheran mengklaim rudal berhasil melewati pertahanan udara Israel.

Video di media sosial menunjukkan rudal meluncur dengan kecepatan tinggi, menghindari interceptor sebelum mencapai target di Israel tengah. Jika benar, ini penggunaan operasional pertama Fattah-2 dalam konflik nyata.

Fattah-2, berarti "Pemenang-2" dalam bahasa Persia, adalah rudal balistik jarak menengah generasi baru yang dikembangkan oleh IRGC Aerospace Force. Diperkenalkan pada November 2023, Fattah-2 adalah peningkatan dari Fattah-1.

Berikut spesifikasi utama Fattah-2 berdasarkan klaim Iran dan analisis militer internasional:

  • Kecepatan maksimal: Mach 13-15 (16.000-18.500 km/jam).
  • Jangkauan: 1.400-1.500 km.
  • Jenis rudal: Hypersonic Glide Vehicle (HGV).
  • Sistem bahan bakar: kombinasi solid fuel dan liquid fuel.
  • Muatan peledak: 200-500 kg high explosive.
  • Platform peluncur: kendaraan TEL (Transporter Erector Launcher).
  • Panjang rudal: sekitar 12 meter.
  • Fitur khusus: radar jamming, manuver terminal tinggi, perubahan lintasan.

Iran mengklaim rudal ini menggunakan material komposit tahan panas yang mampu menahan suhu lebih dari 2.000 derajat Celsius.

Tantangan bagi Iron Dome

Kombinasi kecepatan dan kemampuan manuver menjadi tantangan bagi sistem pertahanan udara. Iron Dome dirancang untuk mencegat roket jarak pendek dengan lintasan yang mudah diprediksi.

Rudal hipersonik memiliki karakteristik berbeda:

  • Kecepatan tinggi mempersingkat waktu reaksi sistem radar dan interceptor.
  • Kemampuan manuver HGV mempersulit prediksi lintasan.
  • Serangan saturasi dengan drone dan rudal lain membebani sistem pertahanan udara.
  • Manuver terminal pada fase akhir mempersulit pencegatan.

Analis militer menyebut teknologi ini berpotensi mengubah kalkulasi pertahanan udara di Timur Tengah.

Perbandingan Fattah-2 vs Kheibar Shekan

Dalam serangan yang sama, Iran juga menggunakan rudal Kheibar Shekan. Meski keduanya rudal jarak menengah, karakteristiknya berbeda. Fattah-2 unggul dalam teknologi hipersonik dan manuver, sementara Kheibar Shekan fokus pada akurasi dan produksi massal.

Kheibar Shekan cocok untuk serangan volume tinggi, sedangkan Fattah-2 sebagai rudal presisi yang sulit dicegat. Kombinasi keduanya adalah bagian dari strategi Iran untuk menembus pertahanan berlapis Israel.

Dampak dan Reaksi Dunia

Militer Israel mengakui beberapa rudal mencapai wilayahnya, tetapi menyatakan sebagian besar serangan berhasil dicegat. AS mengerahkan kapal perang dengan sistem Aegis dan interceptor SM-6.

Israel juga mengembangkan sistem laser Iron Beam untuk menembak jatuh drone dan roket dengan biaya lebih murah.

Kemunculan Fattah-2 menunjukkan perkembangan teknologi rudal Iran meskipun menghadapi sanksi internasional. Ada perdebatan tentang kemampuan sebenarnya Fattah-2. Beberapa pakar meragukan klaim kecepatan Mach 15, dan memperkirakan kecepatan realistisnya mungkin Mach 10.

Sebagian besar analis sepakat bahwa rudal hipersonik dengan kemampuan manuver tetap menjadi tantangan bagi sistem pertahanan udara modern. Perlombaan senjata hipersonik tampaknya akan menjadi babak baru dalam dinamika militer global.

Recommended