Pemerintah Jepang berencana melepaskan cadangan minyak untuk kebutuhan 20 hari, yang akan dimulai paling cepat Mei mendatang. Langkah ini ditempuh sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan energi domestik, di tengah ketidakpastian kondisi di Timur Tengah yang mengganggu jalur pengiriman global.
Perdana Menteri Sanae Takaichi, dalam rapat kabinet pada Jumat (10/4/2026), menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan tambahan dari rencana pelepasan cadangan yang telah dimulai sejak pertengahan Maret. Saat itu, Jepang mulai menyediakan stok minyak yang cukup untuk 50 hari ke depan.
Ketergantungan Jepang terhadap impor minyak mentah dari Timur Tengah sangat tinggi, mencapai lebih dari 90 persen dari total kebutuhan. Sebagian besar pasokan tersebut melewati Selat Hormuz, jalur strategis yang kini menghadapi gangguan pasokan terburuk dalam sejarah.
Meskipun ada kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran, penutupan Selat Hormuz masih menjadi kekhawatiran utama. Hal ini memicu Jepang untuk mencari alternatif pasokan dari negara lain.
Per 7 April 2026, Jepang tercatat memiliki cadangan minyak yang memadai untuk 228 hari, termasuk cadangan publik yang mampu memenuhi kebutuhan selama 143 hari. Pelepasan cadangan terbaru ini akan diambil dari stok publik tersebut.
Pemerintah Jepang menargetkan, pada Mei nanti, lebih dari separuh impor minyaknya dapat dijamin melalui rute yang tidak melewati Selat Hormuz. Meski demikian, Takaichi tidak merinci secara spesifik sumber-sumber pasokan alternatif tersebut.
Deputi Direktur Jenderal Manajemen Krisis Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, Narumi Hosokawa, menyatakan bahwa pelepasan cadangan ini merupakan keputusan mandiri. Namun, ia memastikan adanya koordinasi berkelanjutan dengan Badan Energi Internasional (IEA).
Dilansir dari Detik Finance, dokumen METI menunjukkan Jepang sedang meningkatkan impor minyak dari Amerika Serikat. Impor dari AS pada Mei diproyeksikan akan empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Mei 2025, Jepang mengimpor sekitar 189.000 barel minyak per hari dari AS, menyumbang sekitar 8 persen dari total pembelian minyak mentah bulan itu.
Selain AS, METI juga telah menjalin komunikasi dengan pemasok di berbagai negara, termasuk Malaysia, Azerbaijan, Brasil, Nigeria, dan Angola. Jepang juga memanfaatkan jalur pasokan dari Timur Tengah yang tidak melalui Selat Hormuz, seperti dari Pelabuhan Yanbu di Arab Saudi dan Pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab.
Di tengah situasi global yang bergejolak, Perdana Menteri Sanae Takaichi juga sebelumnya menyatakan bahwa Jepang dapat mengamankan pasokan minyak alternatif hingga 2027. Ini merupakan respons terhadap potensi krisis pasokan akibat penutupan Selat Hormuz.
Menteri Industri Jepang, Ryosei Akazawa, menambahkan bahwa pemerintah akan tetap membuka semua opsi untuk memastikan pasokan energi. Ia juga menyoroti perlunya mengatasi kasus bahan bakar yang belum menjangkau sektor vital seperti perikanan dan pertanian.