Satu Juta Akun Bank Bocor di Dark Web Sepanjang 2025

Laporan Kaspersky ungkap satu juta akun dari 100 bank besar bocor di dark web sepanjang 2025 dengan lonjakan ancaman mobile banking.

Lebih dari satu juta kredensial akun perbankan online dari 100 bank terbesar di dunia dilaporkan bocor dan tersebar luas di pasar gelap siber atau dark web sepanjang tahun 2025. Fenomena ini diungkapkan dalam laporan keamanan digital terbaru dari Kaspersky yang dilansir dari Medcom pada Rabu (22/4/2026).

Data tersebut menunjukkan adanya pergeseran strategi para pelaku kejahatan siber yang kini lebih fokus pada pencurian informasi (infostealer) dan eksploitasi data kredensial. Tren ini menggantikan dominasi malware perbankan tradisional pada perangkat PC yang mulai ditinggalkan oleh pengguna.

Meskipun ancaman pada PC menurun, serangan yang menargetkan mobile banking justru mengalami lonjakan signifikan hingga 1,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Asia Pasifik menjadi wilayah dengan peningkatan deteksi infostealer paling drastis yang mencapai angka 132%.

Phishing finansial tetap menjadi metode ancaman yang paling dominan dengan modus operandi berupa pembuatan halaman toko online palsu. Persentase penipuan melalui toko online mencapai 48,5% pada 2025, atau mengalami kenaikan sebesar 10,3% dari periode sebelumnya.

Data dari Kaspersky Digital Footprint Intelligence (DFI) mencatat bahwa India, Spanyol, dan Brasil menjadi negara-negara dengan rata-rata akun yang paling banyak diretas per bank. Temuan lain menunjukkan bahwa 74% kartu pembayaran yang datanya dicuri tetap valid hingga Maret 2026.

"Ekosistem dark web membuat serangan siber semakin mudah dilakukan bahkan oleh penipu pemula," kata Polina Tretyak, analis dari Kaspersky DFI. Kemudahan akses ini memungkinkan data finansial yang dicuri digunakan dalam jangka waktu yang lama oleh berbagai pihak.

Pola serangan siber juga bervariasi antar wilayah, di mana sektor e-commerce mendominasi serangan di Timur Tengah sebesar 85,8%. Sebaliknya, di kawasan Afrika, phishing perbankan konvensional masih menjadi ancaman utama dengan persentase mencapai 53,75%.

Guna memitigasi risiko, pengguna diimbau untuk selalu mengaktifkan otentikasi multifaktor (MFA) dan menggunakan kata sandi yang unik melalui pengelola sandi. Selain itu, verifikasi keaslian situs web sebelum memasukkan data finansial sangat krusial untuk menghindari jebakan rekayasa sosial.

Recommended