Karakteristik Ekstrem Planet Venus Ungkap Kondisi Geologi dan Atmosfer Mematikan

Planet Venus memiliki ribuan gunung berapi dan suhu mencapai 470 derajat Celcius yang menjadikannya planet paling panas di Tata Surya.

Planet Venus menunjukkan karakteristik geologi dan atmosfer yang sangat ekstrem berdasarkan data pengamatan terkini hingga Selasa, 14 April 2026. Meskipun sering dijuluki sebagai kembaran Bumi karena kemiripan ukuran dan komposisinya, planet kedua dari Matahari ini memiliki lingkungan yang tidak memungkinkan bagi kehidupan akibat suhu dan tekanan udara yang luar biasa tinggi.

Data yang dilansir dari Detik iNET menyebutkan bahwa Venus merupakan pemilik gunung berapi terbanyak di Tata Surya dengan jumlah mencapai 1.600 titik. Sebagian besar dari gunung berapi tersebut diperkirakan oleh para ilmuwan sudah tidak aktif lagi, namun jumlahnya jauh melampaui planet lain.

Suhu di permukaan Venus dilaporkan mampu menembus angka 470 derajat Celcius akibat efek rumah kaca yang dipicu oleh dominasi gas karbondioksida di atmosfernya. Tingginya temperatur ini menyebabkan wahana antariksa apa pun yang mendarat di sana tidak akan mampu bertahan dalam waktu lama.

Selain panas yang membakar, tekanan udara di permukaan Venus tercatat 90 kali lipat lebih kuat dibandingkan tekanan di Bumi. Kondisi tersebut setara dengan tekanan air yang dirasakan manusia pada kedalaman satu kilometer di bawah permukaan laut.

Fenomena unik lainnya berkaitan dengan rotasi planet, di mana satu hari di Venus berlangsung selama 243 hari Bumi. Durasi rotasi ini lebih lama dibandingkan waktu revolusinya mengitari Matahari yang hanya memakan waktu sekitar 224,7 hari Bumi.

Atmosfer Venus juga dikenal sangat beracun karena didominasi oleh asam sulfur dan memiliki kecepatan angin yang mencapai 724 kilometer per jam. Kecepatan angin tersebut secara signifikan melampaui kekuatan tornado paling dahsyat yang pernah terekam di planet Bumi.

Meskipun memiliki kondisi mematikan, Venus merupakan planet paling cemerlang yang dapat dilihat dari Bumi setelah Bulan karena jaraknya yang relatif dekat. Pengamatan terhadap planet ini telah dilakukan sejak zaman kuno, termasuk oleh masyarakat Babilonia pada 1600 Sebelum Masehi dan filsuf Pythagoras.

Recommended