Karyawan Ramai Resign Usai Terima THR Lebaran, Ini Alasannya

Fenomena karyawan mengundurkan diri setelah Lebaran masih marak terjadi. THR jadi salah satu faktor pendorong keputusan tersebut.

Fenomena pengunduran diri karyawan setelah Lebaran seolah menjadi tradisi tahunan di pasar tenaga kerja Indonesia. Pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) dianggap menjadi salah satu faktor utama yang memantapkan pilihan pekerja untuk berpindah kerja.

Praktisi dan Konsultan Sumber Daya Manusia (SDM) Audi Lumbantoruan menjelaskan bahwa pengunduran diri setelah Lebaran bukanlah hal baru. Menurutnya, hal ini rutin terjadi setiap tahun, termasuk tahun ini.

Audi menyampaikan, "Resign setelah Lebaran itu masih ada, masih dan besar. Jadi, dengan kondisi setiap perusahaan mengencangkan tali pinggang, istilahnya ya, justru semakin besar."

Menurut Audi, banyak karyawan yang sebenarnya sudah berniat resign, tetapi sengaja menunda hingga Lebaran agar bisa menerima THR terlebih dahulu. Akibatnya, pengunduran diri menumpuk menjelang atau sesudah Lebaran, menciptakan fenomena rutin yang tampak seperti resign berjamaah. Audi menambahkan, jumlah karyawan yang resign saat Lebaran tahun ini diperkirakan semakin banyak karena dorongan efisiensi perusahaan.

Audi menjelaskan, "Ini mindset yang sebenarnya keliru sih, makin besar orang yang ingin cari peluang perusahaan di luar sana lebih baik dari apa yang saya dapat sekarang. Walaupun belum tentu benar, ya. Ini kan bicara mindset. Lihat yang terjadi sekarang, dengan ancaman ekonomi global dan kondisi politik yang tidak menentu, dorongan itu semakin besar."

Praktisi HR sekaligus Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI) Ivan Taufiza sependapat bahwa tren pengunduran diri di sekitar momen Lebaran masih banyak terjadi di Indonesia.

Ivan menuturkan, "Sama sih kalau ngomongin trennya, ada, nggak menurun gitu lah ya. Jadi, kalau dari teman-teman executive search, kan kalau posisi senior biasanya perusahaan pakai executive search gitu ya, informasi dari teman-teman executive search sih relatif sama."

Ivan menambahkan, "Dari teman-teman HR sendiri juga sama gitu ya. Jadi, juga pada siap-siap cari-cari talent gitu ya, tanya-tanya dan sejenisnya. Jadi kalau saya lihat sih secara prinsip sama, nggak jadi lebih sedikit gitu."

Menurut Ivan, fenomena ini muncul karena pekerja menahan pengajuan resign demi memaksimalkan keuntungan finansial, yaitu THR dan bonus tahunan.

Ivan menerangkan, "Secara prinsip sih sebenarnya karena semua tunggu THR sebenarnya, dan semua tunggu bonus kan. Biasanya pembayaran bonus itu kan akhir Maret atau di bulan April. Jadi mereka tuh menunggu periode itu, lebih ke situ sih."

Fenomena ini dibarengi dengan banyaknya perusahaan yang mencari karyawan baru setelah Lebaran untuk mengisi posisi yang kosong.

Ivan menjelaskan, "Surat lamaran pasti mau Lebaran atau tidak Lebaran dia akan banyak terima. Nah, cuma spesifik kalau setelah Lebaran itu kan karena dia buka lowongan atau memang mencari posisi-posisi yang lowong. Jadi memang tambahannya hanya di situ, tambahan peningkatan lamaran itu."

Recommended